Laman

Minggu, 01 Maret 2009

Cenderung Mempertahankan...

Tadi siang, satu pertanyaan menciptakan sebuah perdebatan diskusi. Bukan dari mahasiswa kepada dosennya. Tapi dari teman kepada teman. Satu pertanyaan yang menjadi pertanyaan orang sekelas. Tentang ramalan kiamat di tahun 2012. Sebelumnya, saya dan beberapa teman perempuan menyepakati bahwa masing-masing kami sudah mendengar ramalan itu. Menyampaikan persepsi masing-masing dan bermuara pada satu kekhawatiran. Teman saya yang satu ini, nampaknya tidak puas, dia butuh pendapat yang bisa mengatakan ramalan itu tidak benar, pendapat yang dapat menghapus kegelisahnya.

Sampai akhirnya dia menanyakan kepada satu teman saya, yang bisa dibilang paling menguasai materi agama. Pertanyaan diajukan, dijawab oleh “sang guru”. Penjelasan “sang guru” mulai menarik perhatian teman saya yang lain, membentuk snowball lingkaran diskusi yang diketahui tapi tidak disadari semakin membesar. Keadaan kelas terpusat pada satu teman saya ini. Pertanyaan lanjutan tentang penjelasannya, mulai banyak dipertanyakan teman-teman saya. Pembahasan mulai meluas, sampai pada ciri-ciri zaman mendekati kiamat.

Saya pribadi tidak terlibat aktif dalam diskusi itu. Saya lebih tertarik memperhatikan tanggapan dan reaksi teman-teman. lama-lama terlihat, mereka saling menguatkan argument dengan pertanyaan penegasan atau contoh-contoh. Diskusi mulai menegang, tapi tidak perang. Ketika teman saya merasa jawaban “sang guru” tidak sesuang dengan pendapatnya. Terjadilah saling adu keyakinan.

Disini mulai terliat kecenderungan mempertahankan pendapat …

Sebenarnya, mari kita lihat di awal. Bahwa si penanya awal hanya ingin mendapat jawaban dari pertanyaan tentang kebenaran ramalan itu menurut “sang guru” berdasarkan ilmu Islam, agama yang kami anut. Sebagusnya, jika orang bertanya maka ia menerima penjelasan dari orang yang ditanya. Artinya, penerimaan informasi yang kemudian menjadi pengetahuan, tidak perlu di debatkan.Tapi tidak untuk diskusi ini.

Mungkin akan menjadi berbeda jika pertanyaannya adalah hal eksak, yang sudah terumus. Jawabannya sudah pasti B, orang yang ditanya hanya menjelaskan rumusnya, bukan pemikirannya. rumus tidak bisa di bantah, sedangkan pendapat bisa mendapat perlawanan dari orang yang tidak sependapat. Makanya diskusi kami tidak berujung pada satu jawaban mufakat.

Masing-masing kami bukan mencari jawaban tapi cenderung mempertahankan keyakinannya. apa yang kami fikirkan dan persepsikan tidak sama. Kami ini orang social. Mahasisiwa Komunikasi di Fakultas ilmu social. Jadi, sah saja kami berperang vocal.

Kami tetap yakin, kapan pun Allah berkehendak mendatangkan hari kiamat detik ini, atau berikutnya. Maka akan terjadi, tidak mesti tahun 2012. Bisa lebih cepat atau bahkan jauh lebih lama. Hanya Allah yang tahu. Kita persiapkan saja bekal yang dibutuhkan.

Tidak ada komentar: