Laman

Rabu, 03 Juli 2013

Kesalahan Pengusaha Pemula



“Jika ingin cepat kaya, maka jadi pengusahalah”. Berapa gaji anda sebagai karyawan? Cukup tidak untuk kredit Rumah? Kredit Kendaraan? Ikut Asuransi?  

Saya pribadi menjawab tidak cukup! Maka yang terlintas pertama adalah BISNIS. Entah dari mana datangnya pemikiran itu. Tapi mari lihat, siapa pemilik rumah mewah di Pondok Indah? rumah mewah di Summarecon? Rumah mewah di Harapan Indah? –mereka adalah pebisnis- selain tentunya pejabat.

Satu lagi kejadian unik yang memperkuat statement diatas. Suatu hari teman saya ingin melakukan transfer tabungan ke bank lain. Dalam menunggu proses, customer bertanya (karena melihat saldo yang besar) “memang mbak usaha apa?” – teman saya adalah guru yang juga pengusaha. Lihat pola pertanyaan sang customer, “mbak usaha apa?” bukan “mbak kerja dimana?”
 
Saya bekerja, tetapi saya juga belajar menjadi entrepreneur di

Untuk pemula, maka artikel dibawah ini bisa menjadi referensi.


Sumber : peluangusaha31.blogspot.com (tgl akses 03/07/2013)

Melakukan segalanya sendiri (single fighter)
Di awal menjalani kehidupan berwirausaha saya punya sifat seperti ini. Mungkin juga karena lagi semangat2nya dan idealis2nya. Entah kenapa teman-teman saya wirausaha pemula juga beberapa melakukan hal ini dan mereka sepertinya gagal juga. Analisis saya kenapa orang melakukan wirausaha sendiri gagal adalah mungkin karena mereka jarang melihat sudut pandang lain. Setiap mengambil keputusan mereka menggunakan sudut pandang pribadi. Padahal kalo ilmu masih cetek keputusan tersebut cenderung salah. Tapi ada juga yang wirausaha sendiri berhasil. Temen-temen saya yang berwirausaha sendirian (single fighter) berhasil umumnya mereka memiliki sifat berikut : supel, banyak teman, humble. Analisis saya lagi, mungkin dengan sifat inilah mereka mendapatkan banyak masukan atau sudut pandang lain sehingga keputusan-keputusan bisnisnya kemungkinan besar tepat. Oh ya, saya ga percaya kalo dikatakan wirausaha hebat punya intuisi, yang ada adalah mereka tekun dan terus belajar dari apa yang ada di sekitarnya.

Salah memilih bidang bisnis
Lagi-lagi ini pengalaman bisnis saya juga. Tapi lagi-lagi beberapa temen yang gagal saya amati juga demikian. ketepatan memilih bidang bisnis menurut saya cukup urgent. Kenapa sih bidang bisnis yang dipilih harus tepat? jelas, ini menentukan sustanability bisnis. Mereka yang berbisnis dengan market yang kecil, banyak kompetitor, dan juga jenuh umumnya kurang sustain. Bisa aja si diawal sukses, tapi kalo bicara masalah sustanability kita bicara jangka panjang. Ada juga yang tahu mereka salah memilih bidang bisnis, kemudian mereka expand ke bisnis yang memiliki rantai nilai tak jauh dari bisnis sebelumnya. Oh ya, ini asumsi kalo sukses bisnis dinilai dari banyaknya revenue yang didapat. Kalo anda menilai sukses bisnis karena bisnis tersebut survive bisa jadi anda punya pandangan lain dengan saya. Contohnya menyikapi orang-orang yang motivasi bisnisnya karena kesenangan/passion. Bisnis distro, indie band, atau game indie. Tapi ada juga yang sukses dalam dua sudut pandang itu. Mereka berawal dari passion dan mereka sukses secara revenue. Analisis saya, mereka sukses karena pas memilih bidang bisnis atau pas pasar sedang mengarah kesitu (terjadi pergeseran asumsi di masyarakat), contohnya terjadi pada industri distro. Walaupun menurut saya, teori ‘passion’ atau ‘lentera hati’ yang pernah disiarkan di kick andy masih bisa menjadi perdebatan.

Terpaku pada hasil/Uang
Sungguh di dunia ini tidak akan ada hasil tanpa melalui proses yang cerdas, efektif dan bermutu. Saya suka mengkritik motivator-motivator yang suka menggambarkan betapa mudahnya sebuah kesuksesan (terutama orang-orang di bisnis MLM). Seolah-olah hasil tersebut bisa didapatkan hanya dalam sekejap tanpa proses yang cerdas, efektif dan bermutu. Jelas ini filosofi yang menyesatkan. Apalagi kalo framework seperti ini kita gunakan terus dalam dunia bisnis atau misalkan jadi professional. Yang ada walaupun sukses tapi caranya sangat merugikan orang lain dan cenderung tidak adil. Tentu ini tidak baik bagi peradaban dunia ini (halah ngomongnya ko uda peradaban aja..). Lalu kenapa sih orang yang terpaku pada hasil bisa gagal berwirausaha? umumnya yang saya lihat mereka tidak terpaku pada proses. Porsi berpikirnya banyakan hasil daripada proses itu sendiri. Inilah yang membuat mereka gagal. Semacam mimpi tanpa diimbangi eksekusi yang bermutu. Hati-hati untuk para mahasiswa, kadang sikap idealisme sering menjerumuskan pada sikap seperti ini. Makanya sikap idealisme harus diimbangi dengan sikap realisme dan juga konkritisme agar eksekusi atas semua idelisme kita berjalan mulus.

Itu saja beberapa poin penting yang saya amati, mudah-mudahan temen-temen lain yang punya sudut pandang lain bisa menambahkan dengan menjawab pertanyaan, “Kenapa sih anda gagal bisnis?” agar bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.



1 komentar:

debra morgan mengatakan...

Hello Am Mrs, Morgan debra Am pemberi pinjaman pinjaman yang sah dan dapat diandalkan memberikan pinjaman
pada syarat dan ketentuan yang jelas dan dimengerti pada tingkat bunga 2%. dari
$ 12.000 untuk $ 7.000.000 USD, Euro dan Pounds Hanya. Saya memberikan Kredit Usaha,
Pinjaman Pribadi, Pinjaman Mahasiswa, Kredit Mobil Dan Pinjaman Untuk Bayar Off Bills. jika kamu
membutuhkan pinjaman apa yang harus Anda lakukan adalah bagi Anda untuk menghubungi saya secara langsung
di: morgandebra1986@gmail.com
Tuhan Memberkatimu.
Salam,
Mrs Morgan debra
Email: morgandebra1986@gmail.com


Catatan: Semua balasan harus kirim ke: morgandebra1986@gmail.com