Laman

Jumat, 26 Maret 2010

Melihat dan Memahami, akhirnya Maklum...

Apa yang diharapkan dari sebuah persahabatan? jawabannya begitu banyak, rasa nyaman, keseruan, tempat berbagi cerita, berbagi pengalaman, saling membantu dan melengkapi. Nyatanya, harapan tidak selalu sesuai dengan prakteknya, itu sebabnya mengapa rasa kecewa selalu ada

Saat harapan tidak sama dengan kenyataan muncul ketidak nyamanan. Kekecewaan tidak akan terjadi ketika kedekatan dengan seseorang berlangsung dengan cepat. Ada teman yang memang dekat, ditandai dengan intensitas bertemu yang sering, ada juga yang hanya bertemu di dalam kelas, dengan tingkat intensitas interaksi yang rendah

Dalam kasus ini, teman yang jarang bertemu dan berinteraksi sekedarnya lebih sedikit memberikan kekecewaan dibanding mereka yang sering bertemu, main bareng dan pergi bersama. Harapan terhadap teman yang rendah interaksinya tidak setinggi harapan mereka kepada teman dekat. Saat teman dekat bertindak yang menurut individu tidak sesuai dengan keinginannya maka saat itu muncul kegusaran

Pengidentifikasian sifat seseorang hanya bisa diberikan ketika hubungan dengan teman berjalan dengan intensif. Dalam interaksi yang sudah cukup lama, masing-masing individu lambat laun akan menunjukkan ciri diri di setiap responnya, apa yang diceritakannya dan juga sudut pandang mereka dalam menanggapi satu kejadian. Secara tidak langsung semua memiliki karakteristik tertentu yang berbeda-beda. Perbedaan ini yang kadang tidak siap kita terima. itu sebabnya muncul kata-kata seperti “dia seharusnya begini, dia tuh gk ngerti, seharusnya dia begitu”

Setandar “seharusnya begini, seharusnya begitu” berbeda-beda di setiap individu, saya mengatakan “seharusnya dia begini”, menurut mereka “itu sudah benar”, jika kedua sudut pandang ini dipaksakan, akan terjadi benturan

Menginginkan agar orang lain berpikir dan bersikap seperti yang diri mau, tidak akan mungkin. Setiap individu memilik latar pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Cultur keluarga, didikan orang tua dan kebiasaan keluarga dekat secara tidak sadar membentuk sikap seseorang. Anak kecil yang dibiarkan ibunya meminta makanan atau mainan orang terlampau sering, akan membawa kebiasaan itu sampai dewasa. Orang tua yang tidak mengajarkan anaknya untuk berbagi, akan memola sikap anak menjadi orang yang cenderung pelit

Apa yang anak alami saat kecil, kemudian tidak dianjurkan atau tidak dicegah oleh orang tua maka bagi si anak hal itu adalah tindakan wajar, yang bisa diterima semua orang, akhirnya sang anak membawan kebiasaaan itu sampai dewasa. Arahan untuk bersikap yang baik dan teguran ketika bersikap tidak baik dari orang tua memiliki peran penting untuk anak mengingat, mana perilaku yang baik yang diterima orang, mana yang buruk, yang tidak bisa diterima orang

Pembelajaran sikap juga harus diajarkan saat anak tumbuh remaja. Karena kerap anak di usia remaja bertingkah sesuai penglihatan mereka sebagai remaja. Sebagai contoh, saya dan seorang teman, beberapa hari yang lalu, pergi mencari makan malam, saat sedang menunggu pesanan kami disajikan, saya tidak sadar kapan remaja itu datang, tiba-tiba saya dan teman mendengar suara yang begitu cempereng berbicara tidak henti-henti, karena penasaran akhirnya saya dan teman melihat kearah remaja itu, dengan kaos dan celana super pendek remaja itu terlihat sangat akrab dengan penjual, dari tadi mondar-mandir, ngajak ngobrol dengan volume suara yang hampir mirip teriak-teriak, bermanja-manja dan melambungkan cerita tentang diri

Saya dan teman, saling melirik, menyepakati sikap anak itu kurang bagus, dan ternyata remaja itu tidak sendiri, disampingnya ada sang ibu yang sedari tadi hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Tanpa ada teguran untuk bersikap yang manis, si ibu seolah membenarkan sikap anaknya.

Sang penjual yang awalnya terlihat begitu meladeni remaja putri tadi, selepas mereka hendak pergi, si remaja pamitan, tidak saya duga, sebelum anak dan ibu itu pergi, si bapak penjual memberi pesan “besok kalau sama orang tua yang sopan y”.
Saat ibu dan anak itu benar-benar pergi, si bapak dan mba yang membantu berjualan bercakap-cakap, mengomentari tingkah dan volume suara remaja itu yang dianggap tidak baik

Maka, hal yang bias saya lihat dari kejadian tadi, ketika ada orang yang cenderung selalu menceritakan keunggulan diri, bertingkah tidak baik. Kemungkinan orang tuanya tidak mengajarkan anak akan nilai-nilai rendah hati dan kesopanan.

Tidak ada komentar: