Saya dan teman saya memang berbeda. Beda keinginan, beda ambisi dan beda tujuan. Perbedaan inilah yang kemudian membuat saya maklum ketika salah seorang teman saya melulu mengeluh pusing kuliah. seolah-olah semua mata kuliah susah dimata dia. Nilai C, tinggal sp.
Tapi… paling semangat kalo ngomongin cowo. Paling dewasa kalo ngomongin bagaimana hidup berumah tangga, bagaimana harus saling pengertian, paling bijak mengatur pengeluaran untuk belanja bulanan.
Ada lagi yang polos banget, gak tau bedanya gelar dokter sama doktor. Ampun deh. Entah apa yang dibaca tiap harinya, entah apa yang ditonton tiap harinya. Tapi y.. begitulah keadaan beberapa teman saya. Mereka-mereka inilah yang terkadang membuat saya jenuh, jengkel, kesal dan geram. Segitu dangkalkah ambisi mereka. Segitu ringankan pencapaian yang ingin mereka raih. Tapi sudahlah, setiap orang berasal dari budaya keluarga yang berbeda. Beda orang tua, beda pula cara penanaman sudut pandang.
Hari ini, saya banyak belajar dari sosok dosen yang baru saya temui di semester empat. Salah satunya, ibu DR. Ratna Noviani. Dosen yang Muda, cantik dan energik. Menyampaikan materi dengan sangat lugas, tepat dan cerdas. Kepiawaian dan kecerdasan beliaulah yang membuat saya terpesona. Terpesona untuk bisa meniru beliau. Berwawasan luas, pandai menyampaikan pesan dan sangat membuka diri pada mahasiswa.
Satu kunci yang harus saya maknai untuk menjadi seperti beliau adalah tidak boleh minim ilmu pengetahuan. Memiliki ambisi yang kuat untuk terus belajar dan menambah wawasan. Fokuskan pada itu, baru kemudian berfikir seperti teman saya di atas, mencari pendamping hidup.
Teman saya itu bilang, jadi wanita memang harus menjadi ibu rumah tangga. Betul, saya setuju dengan itu. Mungkin yang berbeda, menjadi ibu yang bagaimana?? Ibu yang berwawasan luas, atau ibu yang kuliah hanya untuk di bilang lulusan S1?? Sebenarnya, tujuan kuliah yang benar bukan sekedar itu. Semakin luas pengetahuan yang kita miliki akan semakin baik dalam mengelolah kehidupan di keluarga, mendidik anak, berkomunikasi dengan suami. Itu teori yang saya yakini betul.
Kiyai yang berilmu lebih baik dari pada ahli ibadah yang tidak berilmu. Mungkin sebagian pernah kita melihat atau dengar film-film yang menceritakan seorang ahli ibadah yang tidak berilmu kemudian malah musyrik. Kenapa?? Karena tidak ada ilmu yang membentengi dia. Ada bujuk rayu setan, kemudian tergoda dan akhirnya merusak nilai ibadahnya. Dengan ilmu ada bujuk setan, kita bisa menangkis dengan teori-teori atau ilmu yang ada, yang kita pelajari.
Saya bersyukur, memiliki tujuan bahwa wawasan ilmu pengetahuan itu penting, mengejar keinginan dan menjalani big plann saya dengan ambisi yang kuat. Yang saya kira, tidak semua wanita, termasuk teman-teman saya memiliki tujuan yang sama. Yaitu pencapaian karir pekerjaan yang excellent. Good job and good family.
Selasa, 24 Februari 2009
Jumat, 20 Februari 2009
Musim Nikah...
Musim hujan musim nikah, ada duka ada bahagia.. Bulan Januari Februari. Tiga undangan mampir ke rumah saya, acara pernikahan. Mempelai wanitanya teman saya, umur 20 tahun. Usia belum lulus kuliah. Kerjaan belum mapan. Karir belum meranjak. Apa yah yang jadi pertimbangan mereka?
Teman saya bilang, ini sudah jodoh. Jodoh untuk menikah di usia 20 tahun. Memang, nikah adalah pilihan, pilihan adalah masalah waktu. Setiap pilihan berarti disertai dengan kesiapan. Kesiapan untuk menghadapai jenjang kehidupan yang lebih tinggi. Sah saja mereka berfikir begitu, tapi saya memiliki pandangan yang berbeda. Menikah tidak sekedar hidup bersama, punya anak, menjadi ibu, menyiapkan sarapan, pergi kepasar. That is not simple like that.
Perlu bekal untuk mengarunginya. Begitu kompleks. Kolaborasi komunikasi dari dua kepala yang berbeda, menyatukan jalan yang kadang bersebrangan, pengaturan kehidupan untuk anggota keluarga yang makin bertambah dengan kehadiran anak. Tanggungjawab yang mulai berat dengan kehidupan yang mulai serba mandiri. Kewajiban dengan pertumbuhan anak, pendidikan dan mengikuti semua kebutuhan hidup keluarga.
Usia 20 tahun, bekal apa yang sudah bisa dibawa?? Sekedar kesiapan tidak cukup. Sebenarnya hidup ini berjenjang. Saat nikah, ada usianya. Usia dengan segala kemapan: Kemapanan kedewasaan, pengetahuan dan kemapanan karier. Dengan kesiapan yang sempurna, akan mudah nantinya menjalani hidup dalam pernikahan. Level bungsu dari hidup sebelum kembali kepada sang pencipta.
Bagi saya, jalani hidup sesuai tingkatnya. Usia 20, saatnya kuliah, cari pengalaman kemudia kerja, memiliki karier, tabungan lebih dari cukup baru kemudian menikah. Time is come up. Menikah dengan seseorang yang terbaik menurut saya dan orang tua. Dia yang nanti menjadi satu-satunya yang saya punya.
Teman saya bilang, ini sudah jodoh. Jodoh untuk menikah di usia 20 tahun. Memang, nikah adalah pilihan, pilihan adalah masalah waktu. Setiap pilihan berarti disertai dengan kesiapan. Kesiapan untuk menghadapai jenjang kehidupan yang lebih tinggi. Sah saja mereka berfikir begitu, tapi saya memiliki pandangan yang berbeda. Menikah tidak sekedar hidup bersama, punya anak, menjadi ibu, menyiapkan sarapan, pergi kepasar. That is not simple like that.
Perlu bekal untuk mengarunginya. Begitu kompleks. Kolaborasi komunikasi dari dua kepala yang berbeda, menyatukan jalan yang kadang bersebrangan, pengaturan kehidupan untuk anggota keluarga yang makin bertambah dengan kehadiran anak. Tanggungjawab yang mulai berat dengan kehidupan yang mulai serba mandiri. Kewajiban dengan pertumbuhan anak, pendidikan dan mengikuti semua kebutuhan hidup keluarga.
Usia 20 tahun, bekal apa yang sudah bisa dibawa?? Sekedar kesiapan tidak cukup. Sebenarnya hidup ini berjenjang. Saat nikah, ada usianya. Usia dengan segala kemapan: Kemapanan kedewasaan, pengetahuan dan kemapanan karier. Dengan kesiapan yang sempurna, akan mudah nantinya menjalani hidup dalam pernikahan. Level bungsu dari hidup sebelum kembali kepada sang pencipta.
Bagi saya, jalani hidup sesuai tingkatnya. Usia 20, saatnya kuliah, cari pengalaman kemudia kerja, memiliki karier, tabungan lebih dari cukup baru kemudian menikah. Time is come up. Menikah dengan seseorang yang terbaik menurut saya dan orang tua. Dia yang nanti menjadi satu-satunya yang saya punya.
Jumat, 23 Januari 2009
Sosoknya Baru Saya Kenal Hari Ini...
Sosoknya baru saya kenal hari ini, umur sekitar 30an tahun, dengan gaya sederhana berkaos oblong, celana jeans dan tidak nampak sebagai seorang penulis yang sudah melanglang buana ke berbagai tempat di dalam maupun diluar negeri. Minggu pagi, di ruang AR. Fakhrudin lantai 5. Diklat jurnalistik dimulai sekitar pukul sembilan. Awalnya, ketika ada tawaran mengikuti diklat ini, saya pribadi kurang begitu berminat. Karena saya fikir ini hanya semacam kumpul dan diskusi ringan dengan mba dan mas dari Nuansa Kabar. Majalah kampus yang saya ikuti.
Gambaran saya sekedar itu, jadi langkah yang terkayuh di minggu pagi tidak begitu bergairah dan penuh enerjik. Kiranya saya, acara ini tidak mengundang pembicara. Peserta yang hadir y.. sekedar kami anggota buletin Nuansa Kabar. Dugaan saya salah ternyata. Sosoknya datang didampingi mas-mas mengenakan almamater kampus. Siapa ya?? saya tidak kenal. Begitu sederhana. Rambut botak depan dan berkumis tebal.
Sebelum moderator membuka acara. sambil pembicara mengisi biodata. Beberapa orang yang sudah senior di buletin Nuansa Kabar membagikan majalah dengan halaman yang sudah terbuka. Halaman dimana terdapat tulisan sang pembicara pada diklat jurnalistik ini. Ooohh... namanya bpk Joni Ariadinata. Redaktur majalah Horison.
Sosoknya masih saya ragukan akan menyampaikan materi dengan penyampaian yang menarik. Di gambaran pemikiran saya, entah kenapa, apa mungkin saya terlalu parno dengan kegiatan perkuliahan yang datang, duduk, terpaksa mendengarkan dosen menyampaikan materi, semuanya adalah penting, orientasinya pada ujian akhir semester. Sangat melelahkan. Jadi, ketika ada seminar dan sebagainya, bayangan saya seperti duduk di bangku kuliah dengan dosen mengajar membosankan. Pembicaraannya semua tentang teori. Bosen kan dengernya.
Apa yang saya gambarkan runtuh berkeping-keping. Bpk Joni Ariadinata ternyata sosok yang menarik. Beliau paham betul bahwa teori-teori tentang menulis sangat mudah untuk dipelajari. Ada puluhan buku yang membahas tentang cara mudah untuk menulis. Artinya, jika kit hanya ingin mengetahui cara menulis yang baik, bisa dengan mudah membaca buku. Prakteknya tidak sesimple itu, mengetahui teori tidak lantas menjamin seseorang akan menjadi penulis berkualitas. Good educations doest not ensure we will be come competent in writing. Sama seperti ketika kita belajar berenang, teorinya sudah kita hafal betul, tapi ketika langsung berada di air, jika belum latihan, maka teori yang sudah kita hafal tidak akan berfungsi. Menulispun begitu, perlu banyak latihan. Karena itu adalah proses.
Kata pak Joni, menulis tidak memerlukan bakat. Asalkan ada keinginan dan terus mencoba, berlatih. Tinggal masalah waktu. Satu kunci yang harus dipegang, yaitu istiqomah. Awalnya memang susah untuk dapat menulis dengan lancar. tapi jika kita istiqomah. Ada saatnya menulis menjadi mudah, dan membuat orang kecanduan.
Spektakuler, satu kata yang saya usung ketika acara usai. Semua materi yang disampaikan pak Joni membuka fikiran saya. Applause saya berikan dengan penuh penghormatan kepada pak Joni. Semangat saya serasa recharging. Semoga suatu saat saya bisa bertemu bpk lagi. bertemu di acara dan kesempatan lain.
Gambaran saya sekedar itu, jadi langkah yang terkayuh di minggu pagi tidak begitu bergairah dan penuh enerjik. Kiranya saya, acara ini tidak mengundang pembicara. Peserta yang hadir y.. sekedar kami anggota buletin Nuansa Kabar. Dugaan saya salah ternyata. Sosoknya datang didampingi mas-mas mengenakan almamater kampus. Siapa ya?? saya tidak kenal. Begitu sederhana. Rambut botak depan dan berkumis tebal.
Sebelum moderator membuka acara. sambil pembicara mengisi biodata. Beberapa orang yang sudah senior di buletin Nuansa Kabar membagikan majalah dengan halaman yang sudah terbuka. Halaman dimana terdapat tulisan sang pembicara pada diklat jurnalistik ini. Ooohh... namanya bpk Joni Ariadinata. Redaktur majalah Horison.
Sosoknya masih saya ragukan akan menyampaikan materi dengan penyampaian yang menarik. Di gambaran pemikiran saya, entah kenapa, apa mungkin saya terlalu parno dengan kegiatan perkuliahan yang datang, duduk, terpaksa mendengarkan dosen menyampaikan materi, semuanya adalah penting, orientasinya pada ujian akhir semester. Sangat melelahkan. Jadi, ketika ada seminar dan sebagainya, bayangan saya seperti duduk di bangku kuliah dengan dosen mengajar membosankan. Pembicaraannya semua tentang teori. Bosen kan dengernya.
Apa yang saya gambarkan runtuh berkeping-keping. Bpk Joni Ariadinata ternyata sosok yang menarik. Beliau paham betul bahwa teori-teori tentang menulis sangat mudah untuk dipelajari. Ada puluhan buku yang membahas tentang cara mudah untuk menulis. Artinya, jika kit hanya ingin mengetahui cara menulis yang baik, bisa dengan mudah membaca buku. Prakteknya tidak sesimple itu, mengetahui teori tidak lantas menjamin seseorang akan menjadi penulis berkualitas. Good educations doest not ensure we will be come competent in writing. Sama seperti ketika kita belajar berenang, teorinya sudah kita hafal betul, tapi ketika langsung berada di air, jika belum latihan, maka teori yang sudah kita hafal tidak akan berfungsi. Menulispun begitu, perlu banyak latihan. Karena itu adalah proses.
Kata pak Joni, menulis tidak memerlukan bakat. Asalkan ada keinginan dan terus mencoba, berlatih. Tinggal masalah waktu. Satu kunci yang harus dipegang, yaitu istiqomah. Awalnya memang susah untuk dapat menulis dengan lancar. tapi jika kita istiqomah. Ada saatnya menulis menjadi mudah, dan membuat orang kecanduan.
Spektakuler, satu kata yang saya usung ketika acara usai. Semua materi yang disampaikan pak Joni membuka fikiran saya. Applause saya berikan dengan penuh penghormatan kepada pak Joni. Semangat saya serasa recharging. Semoga suatu saat saya bisa bertemu bpk lagi. bertemu di acara dan kesempatan lain.
Langganan:
Postingan (Atom)