Lain lubuk lain belalang, lain tempat lain juga masalahnya. Menjalani hubungan pertemanan tidak semudah mengedipkan mata. Ada saatnya rasa toleransi terkikis karena bosan. satu orang bercerita kepada saya, menyampaikan sikap temannya yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya menurut dia. Yang satunya lagi, bercerita mengutarakan rasa yang sedang mengganggunya.
Meski masalahnya berbeda, hanya satu penyebabnya. Mereka kurang memberi ruang untuk perbedaan. Saya, kamu dan anda semuanya berbeda. Mengharapkan orang lain bertindak seperti apa yang kita inginkan memang tidak mungkin.
Saling mengerti dan menjadikan perbedaan menjadi hal yang harus diberi ruang untuk diharagai dan dimaklumi, saya kira itu yang harus dilakukan untuk menjadikan hubungan pertemanan menjadi lebih indah untuk waktu yang lama dan tak terbatas.
Karena itu, saya mengerti bahwa sifat yang saya anggap menjengkelakan dari teman saya adalah satu fariasi hidup yang menjadikan saya bisa belajar menerima perbedaan itu. akhirnya tetaplah besikap baik dan jangan mudah dikalahkan dengan perbedaan. Untuk menjadi lebih baik, saya coba untuk melihat perbedaan dalam ruang yang cukup lebar.
Rabu, 27 Mei 2009
Senin, 11 Mei 2009
Sisir Pembawa Konflik...
Siapa sangka hilangnya sisir bisa bikin orang menangis. Cerita ini saya dapat dari seorang teman lama. Begini ceritanya. Suatu pagi disaat sebuah keluarga sedang sibuk mempersiapkan rutinitas paginya, adik bersiap untuk berangkat sekolah, kk juga beres-beres untuk pergi kerja.
Awalnya kegiatan pagi berjalan normal, sampai waktunya untuk berdandan. Karena butuh, sang kk mencari sisir untuk merapihkan rambutnya. Dicari-cari sisir tak kunjung ketemu, si kk bertanyalah kepada adiknya. Adik yang ditanya menjawab dengan jawaban yang tidak diharpakan. Adik tidak mengetahui dimana sisir berada.
Kembali si kk bertanya pada ibu, sang ibu juga menjawab tidak tahu. Waktu semakin menghimpit, si kk harus cepat rapih. Sambil mondar-mandir mencari sisir, si kaka rupanya kesal. Disaat kesal datang sang ibu yang bertanya sudahkan sisir itu ditemukan.
si ibu tidak mendengar jawaban kk. disangka kk tidak menjawab pertanyaannya. akhirnya ibu bertanya dengan nada tinggi “Udah ketemu belum sisirnya!!!!! Ditanya diem aja!!!!!”. Si kk yang sedang kesal terbawa emosinya dengan menjawab dengan nada yang tak kalah kerasnya. sambil berkata! Gak ada!!!! orang tadi aku udah jawab!!!!!
Terjadilah ketegangan dingin yang berlanjut antara si kk dan ibu. Kk pun pergi kerja. Sang ibu kini merasa sedih karena perbuatannya anaknya. Siapa yang salah menurut anda?? Si kk kah karena tidak menjawab ibu. Atau Ibu kah yang tidak mengerti keadaan anaknya yang sedang kesal pada waktu itu??
Sebagai sebuah keluarga, melihat satu anggotanya sedang mengalami kesulitan, ibu yang melihat akan menawarkan pertolongan. Pertanyaan sang ibu kepada kk adalah bentuk kepedulian ibu. Dalam keadaan kesal terkadang kepedulain orang lain justru menambah panas kekesalan seseorang.
Namun yang salah ditafsirkan adalah ketika kondidi si kk yang tidak menjawab. Dimaknai sebagai bentuk ketidak sopanan yang melukai hati ibu. Si kk menganggap, ibu tidak empati padanya, bukan membantu mencari malah memarahinya. Jika tidak ada yang saling mengerti akan mempermudah konflik dingin diantara mereka.
Ibu tetap dengan anggapannya, kk tetap dengan sikapnya. Maka, cobalah untuk saling memberi ruang untuk perbedaan, cara memandang kejadian memang terkadang suka berbeda, namun jika ruang untuk menghargai perbedaan dan mencoba menghadapi kejadian dengan sudut pandang yang baik, tentunya diharapkan semua akan berakhir dengan baik.
Awalnya kegiatan pagi berjalan normal, sampai waktunya untuk berdandan. Karena butuh, sang kk mencari sisir untuk merapihkan rambutnya. Dicari-cari sisir tak kunjung ketemu, si kk bertanyalah kepada adiknya. Adik yang ditanya menjawab dengan jawaban yang tidak diharpakan. Adik tidak mengetahui dimana sisir berada.
Kembali si kk bertanya pada ibu, sang ibu juga menjawab tidak tahu. Waktu semakin menghimpit, si kk harus cepat rapih. Sambil mondar-mandir mencari sisir, si kaka rupanya kesal. Disaat kesal datang sang ibu yang bertanya sudahkan sisir itu ditemukan.
si ibu tidak mendengar jawaban kk. disangka kk tidak menjawab pertanyaannya. akhirnya ibu bertanya dengan nada tinggi “Udah ketemu belum sisirnya!!!!! Ditanya diem aja!!!!!”. Si kk yang sedang kesal terbawa emosinya dengan menjawab dengan nada yang tak kalah kerasnya. sambil berkata! Gak ada!!!! orang tadi aku udah jawab!!!!!
Terjadilah ketegangan dingin yang berlanjut antara si kk dan ibu. Kk pun pergi kerja. Sang ibu kini merasa sedih karena perbuatannya anaknya. Siapa yang salah menurut anda?? Si kk kah karena tidak menjawab ibu. Atau Ibu kah yang tidak mengerti keadaan anaknya yang sedang kesal pada waktu itu??
Sebagai sebuah keluarga, melihat satu anggotanya sedang mengalami kesulitan, ibu yang melihat akan menawarkan pertolongan. Pertanyaan sang ibu kepada kk adalah bentuk kepedulian ibu. Dalam keadaan kesal terkadang kepedulain orang lain justru menambah panas kekesalan seseorang.
Namun yang salah ditafsirkan adalah ketika kondidi si kk yang tidak menjawab. Dimaknai sebagai bentuk ketidak sopanan yang melukai hati ibu. Si kk menganggap, ibu tidak empati padanya, bukan membantu mencari malah memarahinya. Jika tidak ada yang saling mengerti akan mempermudah konflik dingin diantara mereka.
Ibu tetap dengan anggapannya, kk tetap dengan sikapnya. Maka, cobalah untuk saling memberi ruang untuk perbedaan, cara memandang kejadian memang terkadang suka berbeda, namun jika ruang untuk menghargai perbedaan dan mencoba menghadapi kejadian dengan sudut pandang yang baik, tentunya diharapkan semua akan berakhir dengan baik.
Rabu, 22 April 2009
Untuk sebuah identitas...
Terkadang orang suka pamer melalui ucapannya. Berusaha memberitahukan orang tentang rutinitas dan pengalamannya yang penuh gelamoritas. Mereka melakukan itu untuk sebuah pengakuan dari orang lain bahwa dirinya hidup dengan penuh kesenangan, setiap kebutuhan dapat dengan mudah terpenuhi.
Demi kepuasan batinnya, terkadang orang yang suka pamer ini lupa, bahwa orang lain tidak suka dengan cerita-cerita yang tidak sesuai dengan kehidupan mereka. Dia asik dengan cerita dirinya, menceritakan yang sebenarnya tidak penting bagi orang lain. Yang penting orang mendengarkan cerita tingginya itu. Takut dibilang pamer tidak lagi difikirkan, yang ada hanya ego agar orang lain terpesona dengan kehidupannya serba mahal dan terpenuhi.
Padahal, bercerita dengan membanggakan diri sama sekali tidak dapat membuat orang berempati dengan dirinya. Meskipun terlihat mendengarkan, pahamilah hal itu hanya basa basi. Sebenarnya mereka jenuh.
Kuliah dan memperhatikan teori yang disampaikan dosen merupakan kewajiban yang harus dilakukan mahasisiwa. Tujuannya agar apa yang di bicarakan diingat dan menjadi pengetahuan yang bermanfaat di dunia kerja. Agak membosankan memang, tapi hal itu tidak bisa dipungkiri adalah penting
Untuk serius atau tidak memang hal relative yang dimiliki tiap-tiap mahasiswa. Itu masalah pilihan. Ada yang serius dan menonjol di kelas di mata kuliah tertentu. Menskipun tidak semua mata kuliah saya suka, selalu saya usahakan untuk mencoba mengerti. Bukan hanya mata kuliah yang saya utamakan tapi juga dosen yang saya hormatin.
Saat saya jenuh menrima mata kuliah saya selalu berusaha tenang dan mencoba untuk memperhatikan dengan sisa mood yang tersedia, intinya saya selalu berusaha mengikuti ceramah kuliahan. Tapi tidak untuk yang satu ini.
Iklim kelas yang membosankan, terbentuk suasana belajar yang menjenuhkan. Penyampaian yang bagi saya sangat tidak menyegarkan. Jadi males hawanya.. jangankan sampai nyantol pelajarannya , semua ditolah masuk dalam otak ini. Pelajaran kek atau bahkan humornya saja saya tidak bisa membuat saya menyenangi sosoknya.
Demi kepuasan batinnya, terkadang orang yang suka pamer ini lupa, bahwa orang lain tidak suka dengan cerita-cerita yang tidak sesuai dengan kehidupan mereka. Dia asik dengan cerita dirinya, menceritakan yang sebenarnya tidak penting bagi orang lain. Yang penting orang mendengarkan cerita tingginya itu. Takut dibilang pamer tidak lagi difikirkan, yang ada hanya ego agar orang lain terpesona dengan kehidupannya serba mahal dan terpenuhi.
Padahal, bercerita dengan membanggakan diri sama sekali tidak dapat membuat orang berempati dengan dirinya. Meskipun terlihat mendengarkan, pahamilah hal itu hanya basa basi. Sebenarnya mereka jenuh.
Kuliah dan memperhatikan teori yang disampaikan dosen merupakan kewajiban yang harus dilakukan mahasisiwa. Tujuannya agar apa yang di bicarakan diingat dan menjadi pengetahuan yang bermanfaat di dunia kerja. Agak membosankan memang, tapi hal itu tidak bisa dipungkiri adalah penting
Untuk serius atau tidak memang hal relative yang dimiliki tiap-tiap mahasiswa. Itu masalah pilihan. Ada yang serius dan menonjol di kelas di mata kuliah tertentu. Menskipun tidak semua mata kuliah saya suka, selalu saya usahakan untuk mencoba mengerti. Bukan hanya mata kuliah yang saya utamakan tapi juga dosen yang saya hormatin.
Saat saya jenuh menrima mata kuliah saya selalu berusaha tenang dan mencoba untuk memperhatikan dengan sisa mood yang tersedia, intinya saya selalu berusaha mengikuti ceramah kuliahan. Tapi tidak untuk yang satu ini.
Iklim kelas yang membosankan, terbentuk suasana belajar yang menjenuhkan. Penyampaian yang bagi saya sangat tidak menyegarkan. Jadi males hawanya.. jangankan sampai nyantol pelajarannya , semua ditolah masuk dalam otak ini. Pelajaran kek atau bahkan humornya saja saya tidak bisa membuat saya menyenangi sosoknya.
Langganan:
Postingan (Atom)