Laman

Rabu, 21 Oktober 2009

Istiqomah itu perlu...

Istiqomah dalam hidup penting, jika istiqomah luntur maka kepercayaan dan penilaian orang terhadap kita bisa ikut pudar. Begitu kira-kira inti pesan singkat yang masuk di inbox sms saya. Pesan singkat yang membuat saya sejenak berfikir. Memang betul, kehilangan istiqomah berarti menghilangkan point penting dalam diri yang dinilai orang.

Setiap pribadi memiliki ciri khas, dari segi sudut pandang, tindakan, sikap dan perilaku yang rutin dimiliki masing-masing individu. Istiqomah berarti ke-konsistensian dari perilaku hidup yang menjadi ciri itu.

Pentingnya Istiqomah sering terabaikan, rasa malas dan kejenuhan kerapkali mengalahkan apa yang telah menjadi target. Rencana-rencana yang sudah tersusun meleset pelaksanaanya karena goyahnya konsistensi. Pesan singkat tadi mungkin sebuah teguran kecil untuk mengingatkan saya akan apa yang dulu saya inginkan. Sebuah capaian yang melambung tinggi di angan saya, memberi semangat yang luar biasa untuk terus berusaha mencapainya.

Sampai sekarang ketika semua perencanaan mulai berjalan lancar, ketika ketetapan hati dan kekuatannya sudah saya dapati. Kembali keistiqomahan saya teruji. Abaian-abaian yang mendominasi fikiran saya membuat saya sedikit meremehkan latihan ini. Padahal dari kebiasaan kecil inilah beranjak menuju keterampilan yang dibutuhkan nantinya.

Keistiqomahan saya sedang terombang-ambing, ada pemikiran-pemikiran lain yang menggoda saya beralih ke hal lain yang sekilas dari sudut pandang ini lebih asyik dan menjanjikan.

Planning awal, mulai bercabang ke ranting lain, di bidang lain. Saya tidak lagi begitu semangat untuk menggapain harapan awal yang saya impikan.Saya sendiri bingung, mana yang ingin saya ambil. Kemana angin ini akan membawa. Saya tidak bisa mengambil keduanya, harus ada satu yang mesti didahulukan, dan satu yang harus berani saya tinggalkan.

Betul, sekarang saya masih kuliah, belum terjun di dunia kerja yang dulu saya inginkan, apalagi terjun di dunia kerja yang baru sekarang muncul keinginan untuk bekerja di sana. Harapan dulu dan harapan yang sekarang memang belum sepenuhnya tercapai. Namun, saya sadar bahwa pencapaian esok di rintis dari usaha di masa sekarang. Hari esok adalah apa yang kita perbuat di hari ini, itu pepatah bijak yang sering didengar. Dan kebenarannya adalah nyata.

Mulai sekarang, semenjak sms itu masuk di inbox saya, kembali saya tersadar. Bahwa keistiqomahan harus tetap di jaga. Jika kelak capaian yang digapai melenceng dari rencana, itu adalah jalan lain yang terbaik.

Tidak ada komentar: