Perasaan hati sedang tidak tenang, sampai sekarang masih tidak bisa tenang, dua pekan sudah berlalu, dicarikan media pelarian juga tidak kunjung sembuh. Seharian nonton drama, ngenet, tidur, masih tidak bisa menghapus pusing kepala. Yang ketemu malah kata-kata yang menohok hati.
Hari ini rencana mau rehat dari pikiran mumet dengan facebookan, gak ada yang asik malah ketemu posting di dinding orang yang bilang “tidakkah semua musibah yang telah terjadi memberi pelajaran bagi kita, jangan sombong, jangan keras hati, jangan keras kepala”. Haduh’ apa lagi ini.. meski saya tahu itu bukan untuk saya, ngebuat otak jadi berfikir. Mungkinkah saya terlalu sombong, menarik diri dari keramaian saat hati sedang tidak tenang.
Mungkinkah saya keras hati saat mulai mengambil sikap untuk meninggalkan mereka siapa saja yang saya anggap tidak baik terhadap saya. Benarkan saya keras kepala saat tidak ada celah untuk memberi maaf bagi mereka yang pernah menyakiti saya.
Saya terus dihantui perasaan yang tidak bersahabat, bayangan yang mengatakan betapa jahat saya ini. Saat hari sedang ada masalah, saya akan berubah menjadi makhluk yang tidak ramah dengan orang sekitar. Bahkan tega berkata judes dan menghilangkan senyum di hadapan orang lain.
Saya sudah mulai berani berkata jujur di muka orang yang saya tidak suka. Jujur yang menyakitkan mereka. Mulai berani berkata unek-unek hati di depan orang yang saya jengkel. Berani berpaling dari mereka yang saya anggap kehadirannya mengganggu.
Sesaat saya merasa cukup puas. Makin kesini hati semakin resah. Merasa terus berdosa. Letih raga rasanya jauh lebih enak dibanding letih batin ini. Tidak ada siapa-siapa disamping saya. Tidak ada yang bersedia berbagi kesusahan ini. Helaan nafas panjang berhembus sendiri tanpa ada yang mendengar.
Saya tahu, saya tidak sendiri.. Ingin menangis tersedu di hadapan-Mu y Allah, berbaring disujud panjang menghadap-Mu, namun sekarang aku tidak bisa. Semua karena ajaran-Mu, aku tak bisa menghadap-Mu untuk beberapa hari ini.
Aku yakin dengan segenap hati dan imanku, engkau tidak lengang y Allah, engakau selalu berada di sisi ini saat tidak ada orang lain yang hadir.
Engkau selalu memberi kebahagiaan saat tidak ada lagi yang mampu memberi ke bahagiaan. Linangan air mata ini, seakan tidak cukup untuk memohon ampun pada-Mu y Allah
Aku rindu kepada Mu y Allah…
Engakau tiada duanya
Senin, 19 Oktober 2009
Sabtu, 10 Oktober 2009
Beri saya Ruang...
Belakang, hari yang saya lalui sungguh terasa berat, tekanan dan pemikiran ini tidak lekas menemukan jalan keluar. Mengambil sikap atau membiarkan? memilih yang mana juga sangat tidak mudah. Menunggu pengertian mereka, lama tidak saya terima.
Di satu sisi hak saya, sisi lain adalah mereka. Jika saja hati ini mampu untuk bertindak tega.. tapi nyatanya saya tidak mampu. Bersikap seperti ini juga tidaklah membuat saya tenang, mengambil tindakan untuk menjaga hak membuat saya tidak enak hati terhadap mereka.
Salahkan keputusan saya? tapi.. bukankah orang yang tidak punya rasa sungkan terhadap orang lain tidak baik? Saya ada rasa saat ingin sendiri, merenungi semu hidup yang sudah saya tempuh untuk menjadi yang lebih baik.
Tapi mengapa mereka tidak mengerti, tidakkah membaca situasi muka saya ini. Haruskah menunggu benar-benar marah baru tahu apa yang saya butuhkan. Untuk saya tidak mudah mengatakan jangan terhadap orang lain, tidak mudah menolak kedatangan mereka, meski badan sudah sangat butuh istirahat.
Saya tahu sifat ini bukan saya, sifat mau melelehkan diri sendiri demi menerangi orang lain, itu bukan saya. Saya sungguh tidak mampu melihat orang lain tidak lagi menghargai privasi saya. Hati ini menjadi lelah saat kebaikan mulai dinilai sebagai kebebasan. Saat apa yang saya punya mulai dirusuhkan karena sifat tidak tanggungjawab mereka. Tidak sanggup berdiri lama lagi.
Ini jadi tidak seimbang, saya terus berusaha bersikap baik. Memberi mereka maklum saat kondisi saya berantakan dibuatnya. Saya terus berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka, bahkan saya bisa lebih mempedulikan mereka dibanding keletihan saya.
Akhirnya, jika ini tidak berjalan seimbang.. saya tumbang juga.. Muak melihat mereka tidak berubah: terus ingin saya yang mengimbangi. Saya, adalah dijalan saya. Pemegang kendali terhadap semua apa yang saya punya. Mereka yang tidak bisa memberi ruang untuk menghargai saya, saya lepaskan.
Sekarang pertanyaan saya? siapa yang ketergantungan? Selamanya ingin orang lain yang berbuat baik? Tidak ada yang bisa bertahan lama tanpa keseimbangan. Bagi saya, saya bisa hidup dengan kaki saya sendiri.
Di satu sisi hak saya, sisi lain adalah mereka. Jika saja hati ini mampu untuk bertindak tega.. tapi nyatanya saya tidak mampu. Bersikap seperti ini juga tidaklah membuat saya tenang, mengambil tindakan untuk menjaga hak membuat saya tidak enak hati terhadap mereka.
Salahkan keputusan saya? tapi.. bukankah orang yang tidak punya rasa sungkan terhadap orang lain tidak baik? Saya ada rasa saat ingin sendiri, merenungi semu hidup yang sudah saya tempuh untuk menjadi yang lebih baik.
Tapi mengapa mereka tidak mengerti, tidakkah membaca situasi muka saya ini. Haruskah menunggu benar-benar marah baru tahu apa yang saya butuhkan. Untuk saya tidak mudah mengatakan jangan terhadap orang lain, tidak mudah menolak kedatangan mereka, meski badan sudah sangat butuh istirahat.
Saya tahu sifat ini bukan saya, sifat mau melelehkan diri sendiri demi menerangi orang lain, itu bukan saya. Saya sungguh tidak mampu melihat orang lain tidak lagi menghargai privasi saya. Hati ini menjadi lelah saat kebaikan mulai dinilai sebagai kebebasan. Saat apa yang saya punya mulai dirusuhkan karena sifat tidak tanggungjawab mereka. Tidak sanggup berdiri lama lagi.
Ini jadi tidak seimbang, saya terus berusaha bersikap baik. Memberi mereka maklum saat kondisi saya berantakan dibuatnya. Saya terus berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka, bahkan saya bisa lebih mempedulikan mereka dibanding keletihan saya.
Akhirnya, jika ini tidak berjalan seimbang.. saya tumbang juga.. Muak melihat mereka tidak berubah: terus ingin saya yang mengimbangi. Saya, adalah dijalan saya. Pemegang kendali terhadap semua apa yang saya punya. Mereka yang tidak bisa memberi ruang untuk menghargai saya, saya lepaskan.
Sekarang pertanyaan saya? siapa yang ketergantungan? Selamanya ingin orang lain yang berbuat baik? Tidak ada yang bisa bertahan lama tanpa keseimbangan. Bagi saya, saya bisa hidup dengan kaki saya sendiri.
Sabtu, 03 Oktober 2009
Mudik gratis ala PT Sido Muncul
Corporate social responsibility atau CSR adalah program kehumasan yang dilakukan banyak perusahaan besar. Dengan agenda mengadakan acara yang bersifat sosial. Salah satu perusahaan yang membuat program CSR adalah PT. Tolak Angin.
Dengan programnya: mudik gratis bagi pedagang jamu dan pedagang asongan yang secara serentak dilaksanakan pada, Selasa (15/09/09) pagi dari Jakarta, Bandung, Tangerang, Cikampek, Cibinong, dan Cilegon. Keberangkatan dipusatkan di areal Parkir Barat PRJ Kemayoran. Mereka akan dilepas Menhub Jusman Syafii Djamal, Menakertrans Eman Suparno dan Gubernur DKI Fauzi Bowo ( http://www.kabarbisnis.com)
Tidak sedikit anggaran untuk program CSR ini, hal ini terlihat bahwa PT Sido Muncul dalam tahun 2008 mengeluarkan dana mencapai Rp 8 Milyar (http://www.kabarbisnis.com).
Meski harus mengeluarkan dana yang besar, kegiatan CSR adalah bentuk kepedulian prusahaan kepada masyarakat.Dengan demikian, melalui program CSR ini, maka secara tidak langsung perusahaan yang bersangkutan akan mendapat ruang di ingatan masyarakat.
Biasanya prodak-prodak yang mengadakan kegiatan CSR, yang kemudian di publikasikan melalui media akan mendapat perhatian masyarakat karena secara perlahan, publik akan mudah mengingat prodak yang bersangkutan.Maka, dengan itu banyak perusahaan yang menggunakan momen lebaran untuk mengadakan CSR.
NB: posting ini saya buat untuk tugas mata kul. Penulisan Public Relations
Dengan programnya: mudik gratis bagi pedagang jamu dan pedagang asongan yang secara serentak dilaksanakan pada, Selasa (15/09/09) pagi dari Jakarta, Bandung, Tangerang, Cikampek, Cibinong, dan Cilegon. Keberangkatan dipusatkan di areal Parkir Barat PRJ Kemayoran. Mereka akan dilepas Menhub Jusman Syafii Djamal, Menakertrans Eman Suparno dan Gubernur DKI Fauzi Bowo ( http://www.kabarbisnis.com)
Tidak sedikit anggaran untuk program CSR ini, hal ini terlihat bahwa PT Sido Muncul dalam tahun 2008 mengeluarkan dana mencapai Rp 8 Milyar (http://www.kabarbisnis.com).
Meski harus mengeluarkan dana yang besar, kegiatan CSR adalah bentuk kepedulian prusahaan kepada masyarakat.Dengan demikian, melalui program CSR ini, maka secara tidak langsung perusahaan yang bersangkutan akan mendapat ruang di ingatan masyarakat.
Biasanya prodak-prodak yang mengadakan kegiatan CSR, yang kemudian di publikasikan melalui media akan mendapat perhatian masyarakat karena secara perlahan, publik akan mudah mengingat prodak yang bersangkutan.Maka, dengan itu banyak perusahaan yang menggunakan momen lebaran untuk mengadakan CSR.
NB: posting ini saya buat untuk tugas mata kul. Penulisan Public Relations
Langganan:
Postingan (Atom)