Tidak ada yang tidak bisa mala... u can if u want.. kata yang sering saya dengar dan kaprah dimata saya. perlahan saya ucapkan dan tekadkan dalam hati. tujuannya untuk menghibur diri sendiri. Sebenarnya saya sedang letih dan kecewa. Terlalu mudah untuk rapu ketika harapan dan keinginan belum dapat saya capai di saat ini.
Hati menjadi gelisah ketika melihat orang lain mulai mencapai impian mereka, sedang saya masih begini, di sini, dengan kegiatan yang masih belum mengalami peningkatan. sedih, bingung dan emosiii rasanya u do nothing mala... nothing!!!
Serba salah, melihat orang lain di tangga impian mereka hati menjadi tak tenang, melihat kebawah, bikin besar kepala, merasa saya sudah pada batas dimana saya lebih dibanding mereka. Lantas, siapa yang harus saya lihat?? mereka yang berleha-leha mengejar masa depan, atau mereka yang telah lebih dahulu berhasil menggapainnya?
Secara berkala, meski tidak sering, rasa seperti ini terus menghampiri saya. Terutama di saat hati dan fikiran sedang tidak fokus, kosong tanpa kegiatan. Selepas ujian hari ini, rencana mau rehat dengan ngenet, udah lama gak ngenet, kemarin pending, memang sengaja untuk menyiapkan diri dan otak tertuju pada kegiatan ujian. Dan hari ini, ketika kesuntukan akibat belajar sudah terlepas. Tiba-tiba datang tanpa diundang rasa ini...
acchh... if i can catch this feel, i want to kill it, and say Horee... u cant come back again in my soul...
Jumat, 20 November 2009
Senin, 26 Oktober 2009
Perubahan Menimbulkan Tanggapan
Sekian lama, semenjak memasuki semester lima, saya jarang makan di kantin kampus. Selain keadaan yang ramai, berasa lebih mahal di banding makan di luar. Anak kost dengan uang saku yang tidak berlebihan, membuat saya lebih memilih makan diluar, meski selisih seribu dua ribu.
Kalau dulu, selesai kuliah, rame-rame sepakat semuanya sarapan di kantin. Gerombolan pertama disusul gerombolan kedua, datang serempak memenuhi kantin. Kalau sudah begitu, petugas kantin mulai sibuk mencatat, mondar-mandir memenuhi pesanan. Kantin yang sepi dan tenang, berubah riuh dengan suara obrolan dimana-mana, dentingan sendok beradu piring, kepulan asap dari sekumpulan cowo-cowo sambil merokok.
Bersama perjalanan waktu, moment seperti itu sudah lewat masanya, heboh-heboh di kantin rame-rame, makan lima menit ngobrolnya bisa sampe setengah jam. Kebiasaan itu mulai memudar. Bukan hanya berlaku untuk saya, beberapa teman juga seirama dengan saya menjadikan kantin bukan lagi tujuan singgah utama.
Jika dulu sering bergerombol, pergi kesana-kesini rame-rame, janjian jalan, nonton, karaoke sekarang saya kurang berminat untuk lakukan itu. Saya lebih suka menghabiskan waktu dengan satu atau dua orang teman saja. Ngobrol ringan sambil berbagi cerita. Membincangkan masa depan dengan harapan-harapan yang ingin dicapai. Mendiskusikan kejadian yang kami alami untuk menemukan hikmahnya.
Pindahnya kebiasaan ternyata bukan tanpa tantangan. Perubahan menimbulkan tanggapan yang berbeda. Rupanya, perubahan saya ini, menuai beberapa omongan. Ada laporan teman yang baik kepada saya, melaporkan bahwa saya dinilai berubah dan jauh oleh gerombolan.
Jika itu yang meraka utarakan, saya jawab iya, saya berubah tidak lagi tergabung dalam gerombolan. Saya jauh, tidak lagi ikut serta dalam setiap perjalanan mereka. Namun saya tidak menyesali keputusan ini, menghabiskan beberapa bulan bersama gerombolan memberi saya penilian bahwa hubungan pertemanan seperti ini tidak baik untuk berjalan lama.
Kegiatan yang muncul hanya main, menghabiskan waktu dan uang untuk tertawa-tawa, meskipun ada membahas perencanaan, hanya ada perencanaan jalan kemana setelah ini, rekreasi kemana habis ini. Lama-lama batin saya dan logika tidak bisa lagi menerima keadaan ini. Apa yang ingin saya cari dari kegiatan seperti itu.
Gerombolan mungkin bisa mengahabiskan waktu hanya untuk urusan itu, karena mereka memiliki uang untuk membangun masa depan mereka. Pemikiran dan capaian yang ingin di capai gerombolan tidak muluk-muluk. Hanya ingin menjadi ibu rumah tangga. That is not my expectations.
Kalau dulu, selesai kuliah, rame-rame sepakat semuanya sarapan di kantin. Gerombolan pertama disusul gerombolan kedua, datang serempak memenuhi kantin. Kalau sudah begitu, petugas kantin mulai sibuk mencatat, mondar-mandir memenuhi pesanan. Kantin yang sepi dan tenang, berubah riuh dengan suara obrolan dimana-mana, dentingan sendok beradu piring, kepulan asap dari sekumpulan cowo-cowo sambil merokok.
Bersama perjalanan waktu, moment seperti itu sudah lewat masanya, heboh-heboh di kantin rame-rame, makan lima menit ngobrolnya bisa sampe setengah jam. Kebiasaan itu mulai memudar. Bukan hanya berlaku untuk saya, beberapa teman juga seirama dengan saya menjadikan kantin bukan lagi tujuan singgah utama.
Jika dulu sering bergerombol, pergi kesana-kesini rame-rame, janjian jalan, nonton, karaoke sekarang saya kurang berminat untuk lakukan itu. Saya lebih suka menghabiskan waktu dengan satu atau dua orang teman saja. Ngobrol ringan sambil berbagi cerita. Membincangkan masa depan dengan harapan-harapan yang ingin dicapai. Mendiskusikan kejadian yang kami alami untuk menemukan hikmahnya.
Pindahnya kebiasaan ternyata bukan tanpa tantangan. Perubahan menimbulkan tanggapan yang berbeda. Rupanya, perubahan saya ini, menuai beberapa omongan. Ada laporan teman yang baik kepada saya, melaporkan bahwa saya dinilai berubah dan jauh oleh gerombolan.
Jika itu yang meraka utarakan, saya jawab iya, saya berubah tidak lagi tergabung dalam gerombolan. Saya jauh, tidak lagi ikut serta dalam setiap perjalanan mereka. Namun saya tidak menyesali keputusan ini, menghabiskan beberapa bulan bersama gerombolan memberi saya penilian bahwa hubungan pertemanan seperti ini tidak baik untuk berjalan lama.
Kegiatan yang muncul hanya main, menghabiskan waktu dan uang untuk tertawa-tawa, meskipun ada membahas perencanaan, hanya ada perencanaan jalan kemana setelah ini, rekreasi kemana habis ini. Lama-lama batin saya dan logika tidak bisa lagi menerima keadaan ini. Apa yang ingin saya cari dari kegiatan seperti itu.
Gerombolan mungkin bisa mengahabiskan waktu hanya untuk urusan itu, karena mereka memiliki uang untuk membangun masa depan mereka. Pemikiran dan capaian yang ingin di capai gerombolan tidak muluk-muluk. Hanya ingin menjadi ibu rumah tangga. That is not my expectations.
Rabu, 21 Oktober 2009
Istiqomah itu perlu...
Istiqomah dalam hidup penting, jika istiqomah luntur maka kepercayaan dan penilaian orang terhadap kita bisa ikut pudar. Begitu kira-kira inti pesan singkat yang masuk di inbox sms saya. Pesan singkat yang membuat saya sejenak berfikir. Memang betul, kehilangan istiqomah berarti menghilangkan point penting dalam diri yang dinilai orang.
Setiap pribadi memiliki ciri khas, dari segi sudut pandang, tindakan, sikap dan perilaku yang rutin dimiliki masing-masing individu. Istiqomah berarti ke-konsistensian dari perilaku hidup yang menjadi ciri itu.
Pentingnya Istiqomah sering terabaikan, rasa malas dan kejenuhan kerapkali mengalahkan apa yang telah menjadi target. Rencana-rencana yang sudah tersusun meleset pelaksanaanya karena goyahnya konsistensi. Pesan singkat tadi mungkin sebuah teguran kecil untuk mengingatkan saya akan apa yang dulu saya inginkan. Sebuah capaian yang melambung tinggi di angan saya, memberi semangat yang luar biasa untuk terus berusaha mencapainya.
Sampai sekarang ketika semua perencanaan mulai berjalan lancar, ketika ketetapan hati dan kekuatannya sudah saya dapati. Kembali keistiqomahan saya teruji. Abaian-abaian yang mendominasi fikiran saya membuat saya sedikit meremehkan latihan ini. Padahal dari kebiasaan kecil inilah beranjak menuju keterampilan yang dibutuhkan nantinya.
Keistiqomahan saya sedang terombang-ambing, ada pemikiran-pemikiran lain yang menggoda saya beralih ke hal lain yang sekilas dari sudut pandang ini lebih asyik dan menjanjikan.
Planning awal, mulai bercabang ke ranting lain, di bidang lain. Saya tidak lagi begitu semangat untuk menggapain harapan awal yang saya impikan.Saya sendiri bingung, mana yang ingin saya ambil. Kemana angin ini akan membawa. Saya tidak bisa mengambil keduanya, harus ada satu yang mesti didahulukan, dan satu yang harus berani saya tinggalkan.
Betul, sekarang saya masih kuliah, belum terjun di dunia kerja yang dulu saya inginkan, apalagi terjun di dunia kerja yang baru sekarang muncul keinginan untuk bekerja di sana. Harapan dulu dan harapan yang sekarang memang belum sepenuhnya tercapai. Namun, saya sadar bahwa pencapaian esok di rintis dari usaha di masa sekarang. Hari esok adalah apa yang kita perbuat di hari ini, itu pepatah bijak yang sering didengar. Dan kebenarannya adalah nyata.
Mulai sekarang, semenjak sms itu masuk di inbox saya, kembali saya tersadar. Bahwa keistiqomahan harus tetap di jaga. Jika kelak capaian yang digapai melenceng dari rencana, itu adalah jalan lain yang terbaik.
Setiap pribadi memiliki ciri khas, dari segi sudut pandang, tindakan, sikap dan perilaku yang rutin dimiliki masing-masing individu. Istiqomah berarti ke-konsistensian dari perilaku hidup yang menjadi ciri itu.
Pentingnya Istiqomah sering terabaikan, rasa malas dan kejenuhan kerapkali mengalahkan apa yang telah menjadi target. Rencana-rencana yang sudah tersusun meleset pelaksanaanya karena goyahnya konsistensi. Pesan singkat tadi mungkin sebuah teguran kecil untuk mengingatkan saya akan apa yang dulu saya inginkan. Sebuah capaian yang melambung tinggi di angan saya, memberi semangat yang luar biasa untuk terus berusaha mencapainya.
Sampai sekarang ketika semua perencanaan mulai berjalan lancar, ketika ketetapan hati dan kekuatannya sudah saya dapati. Kembali keistiqomahan saya teruji. Abaian-abaian yang mendominasi fikiran saya membuat saya sedikit meremehkan latihan ini. Padahal dari kebiasaan kecil inilah beranjak menuju keterampilan yang dibutuhkan nantinya.
Keistiqomahan saya sedang terombang-ambing, ada pemikiran-pemikiran lain yang menggoda saya beralih ke hal lain yang sekilas dari sudut pandang ini lebih asyik dan menjanjikan.
Planning awal, mulai bercabang ke ranting lain, di bidang lain. Saya tidak lagi begitu semangat untuk menggapain harapan awal yang saya impikan.Saya sendiri bingung, mana yang ingin saya ambil. Kemana angin ini akan membawa. Saya tidak bisa mengambil keduanya, harus ada satu yang mesti didahulukan, dan satu yang harus berani saya tinggalkan.
Betul, sekarang saya masih kuliah, belum terjun di dunia kerja yang dulu saya inginkan, apalagi terjun di dunia kerja yang baru sekarang muncul keinginan untuk bekerja di sana. Harapan dulu dan harapan yang sekarang memang belum sepenuhnya tercapai. Namun, saya sadar bahwa pencapaian esok di rintis dari usaha di masa sekarang. Hari esok adalah apa yang kita perbuat di hari ini, itu pepatah bijak yang sering didengar. Dan kebenarannya adalah nyata.
Mulai sekarang, semenjak sms itu masuk di inbox saya, kembali saya tersadar. Bahwa keistiqomahan harus tetap di jaga. Jika kelak capaian yang digapai melenceng dari rencana, itu adalah jalan lain yang terbaik.
Langganan:
Postingan (Atom)