Laman

Minggu, 06 Desember 2009

Mari Perhatikan...

Berjalan sepanjang malioboro, ada hal yang terkadang terlewatkan. Kebanyakan orang datang kemudian sibuk dengan kebutuhannya masing-masing. Padahal jika sedikit saja menoleh dan berhenti sejenak untuk memperhatikan, tersimpan banyak kejadian yang bisa mematangkan emosi untuk bijak menjalani hidup


Tengok keluar di pintu-pintu mall, beberapa wajah letih, terus berusaha menawarkan jasanya, demi mengumpulkan selembar uang lima ribuan.Di pinggir jalan, wajah-wajah gosong karena sinar matahari dan tubuh kurus dibalut pakaian berwarna orange, sibuk merapihkan deretan kendaraan.

Sepanjang lorong malioboro, pedagang dagadu dan souvenir memperhatikan setiap pengunjung yang lewat, dengan harapan ada yang membeli dagangannya. Sesosok wanita tua yang mulai beruban, berkebaya dan berkalungkan selendang yang biasa digunakan untuk menggendong bawaan, duduk menanti dengan wajah penuh harap, wajah yang menunjukkan kekhawatiran “berapa dagangan yang akan terjual hari ini, berapa rupiah yang akan dibawa pulang”

Dikejauhan terlihat seorang bapak, duduk lesehan memainkan angklung dengan kaleng yang dijadikan wadah untuk mengumpulkan uang, di depannya. Sambil tertunduk dan mata yang terpejam karena cacat. Setiap alunan lagu dibawakan dengan satu impian, agar wadah kalengnya terisi uang. Saya masih teringat betul wajah itu, wajah yang sudah letih untuk mengeluh

Di sisi lain, di kedalaman mall, suasana, sudah tidak memungkinkan lagi untuk berempati dengan orang yang berada di dalamnya. Perhatikan wajah orang-orang borju yang sibuk memilih barang mahal untuk kesenanganya. Badan gemuk, wajah bersih, wangi parfum harga ratusan ribu.

Mahasiswa, si penerima uang bulanan secara cuma-cuma, berseliweran di rak-rak sepatu, sibuk mencoba, memilih dan mempertimbangkan harga. Di tempat makan cepat saji, sepasang suami istri sedang sibuk membujuk anaknya untuk makan. Entah karena si istri tidak bisa masak atau bosan dengan menu rumahan akhirnya sekeluarga makan di tempat yang lebih mahal, dibanding makan dirumah dengan menu yang sama

Hidup memang mengharuskan keadaan tidak seimbang, sang Maha Kuasa sudah mengatur semuanya berpasang-pasangan, ada kaya ada miskin, ada mudah ada susah, ada bahagia ada sengsara. Perbedaan ini, bagi saya, sebagai alarm disaat saya mulai khilaf untuk bersyukur, selalu kurang dan ingin materi yang lebih. Padahal kesempatan yang saya jalani jauh lebih beruntung.

Berkat sedikit menoleh untuk melihat ke sekitar, saya memahami perjuangan bapak tukang becak, bapak parkir, bapak pengamen dan mbah pedagang buah. Mereka menyadarkan saya untuk terus berjuang mencapai cita-cita, rasa letih yang sering saya keluhkan, tidak berarti apa-apa dibanding usaha mereka.

Rabu, 25 November 2009

Up to u Bozz

Menjadi yang tidak diprioritaskan, mengesalkan. Saat opini dan masukan sekedar ditampung, tidak dibahas kemudian di buang, siapa yang suka keadaan itu? Adakah? Itulah resiko jadi anggota, mau enak, jadi bos saja. Bergaya meminta masukan, padahal sekedar basa-basi biar terlihat membuka diri, ujung-ujungnya yang dipakai adalah pendapatnya sendiri.

Perkara lumrah yang dialami banyak bawahan, its ok’ karena semua bawahan memahami itu. Apa yang membuatnya berbeda? Kesan negatif muncul saat penolakan disertai dengan pembawaan yang merepresentasikan tindakan tidak menghargai. Meski bahasa yang digunakan adalah kata kiasan yang berintonasi lembut, jika bahasa nonverbal menunjukkan sikap mengabaikan, itu lebih membangkitkan sisi tidak menerima.

Saling menghormati menjadi hal pokok dari semua ini, hargai dan pandang usaha yang telah dikerjakan. Jika belum optimal, katakan dan tunjukkan dengan bahasa nonverbal yang bersahabat. Sayangnya, tidak semua orang menerima itu dalam pelaksanaannya, yang parah, jika masukan dan opini direspon dengan diam sambil memperlihatkan raut muka yang menafsirkan “ha? apaan tuh? Gk mungkin lah! Aneh!”

There’ is nothing impossible. There are always two sides to everything. Jika satu hal nampak tidak mungkin, bukan berarti tidak bisa dilaksanakan. Saya kira siapapun, tidak akan merekomendasikan hal yang buntu untuk dilakukan. Bukan tidak mungkin, hanya belum menemukan konsep yang tepat.

Melihat ini, saya tidak bisa memusatkan kesalahan pada si boz, tanggungjawab dan beban yang dibawa boz mungkin jauh lebih mendesak. Jadi, saya terima keadaan ini, bagi saya, bukan suatu penghalang berat yang meski saya keluh kesahkan sepanjang masa. I am just need to talk, and that is enough when I’m was completed this blog.

Hal kemarin biar menjadi sejarah dalam perjalanan hidup saya, tersimpan di blog ini, untuk kemudian suatu hari, ketika saya sudah jauh pergi dari keadaan sekarang, catatan ini menjadi bacaan pribadi saya, memahami setiap perjuangan yang sudah saya lalui.

Jumat, 20 November 2009

Ah' lagi.. datang lagi rasa itu... U Bad Mala, part 2

Tidak ada yang tidak bisa mala... u can if u want.. kata yang sering saya dengar dan kaprah dimata saya. perlahan saya ucapkan dan tekadkan dalam hati. tujuannya untuk menghibur diri sendiri. Sebenarnya saya sedang letih dan kecewa. Terlalu mudah untuk rapu ketika harapan dan keinginan belum dapat saya capai di saat ini.

Hati menjadi gelisah ketika melihat orang lain mulai mencapai impian mereka, sedang saya masih begini, di sini, dengan kegiatan yang masih belum mengalami peningkatan. sedih, bingung dan emosiii rasanya u do nothing mala... nothing!!!

Serba salah, melihat orang lain di tangga impian mereka hati menjadi tak tenang, melihat kebawah, bikin besar kepala, merasa saya sudah pada batas dimana saya lebih dibanding mereka. Lantas, siapa yang harus saya lihat?? mereka yang berleha-leha mengejar masa depan, atau mereka yang telah lebih dahulu berhasil menggapainnya?

Secara berkala, meski tidak sering, rasa seperti ini terus menghampiri saya. Terutama di saat hati dan fikiran sedang tidak fokus, kosong tanpa kegiatan. Selepas ujian hari ini, rencana mau rehat dengan ngenet, udah lama gak ngenet, kemarin pending, memang sengaja untuk menyiapkan diri dan otak tertuju pada kegiatan ujian. Dan hari ini, ketika kesuntukan akibat belajar sudah terlepas. Tiba-tiba datang tanpa diundang rasa ini...

acchh... if i can catch this feel, i want to kill it, and say Horee... u cant come back again in my soul...