Laman

Senin, 13 September 2010

Aku Gelisah...

Sebut ini pengakuan atas kebutuhan batin untuk mengingat Mu ya Allah...

Ku sandarkan kegelisahan ini hanya kepada Mu, Allah yang Maha segalanya
Semua mulai terasa tak berarti
Harapan dan impian begitu tinggi
Kerapkali mendatangkan ketegangan dan keluhan atas berjalannya kehidupan
Beban menjadi memuncah sebab keinginan
Hasrat semakin membara akibat nafsu
Mengambil, demi satu, demi satu, butiran kesabaran
Kemudian menipiskan ketebalan pasrah perlahan
Muncul berbagai sangkaan kepada YME
Mengerutkan dahi dan menebalkan amarah hati
Mempertanyakan dan mengeluhkan pergerakan waktu yang tak diharapkan
Atas realita kejadian yang tak sama... antara aku dan mereka ...
Aku mulai mengesali

Ya Robb....
Selama ini aku hanya melihat kebahagian dari hal yang sementara
Aku sibuk berfikir tentang indahnya “kebun” orang
Tentang enaknya pemberian rumput hijau yang engkau berikan di halaman dia dan mereka
Ya Robb...
Aku selalu menjadi orang yang lemah mempertahankan kepercayaan diri
Lemah melihat betapa indahnya hidup yang telah kau beri
Sibuk, sibuk, aku benci..
Sibuk perkara dunia seperti harapan dan cita-cita yang kerap melenakan
Aku benci rendah
Rendah kadar kekuatan hatiku yang selalu melihat kehidupan orang begitu indah

Kata jikalau mengapa di-adakan
Sebab itu aku selalu menggunakan
Aku benci mengatakan
Jika aku seperti mereka
Jika aku secantik mereka
Jika aku hidup dengan orang tua seperti mereka
Jika aku berjalan di jalan mereka
Jika aku
Jika aku
Jika aku
Tanpa usai...
Setiap selesai mengucap
Batin ini menjadi begitu tak tentram
Fikiran menyekap pada keindahan yang semu
Hati mendesak meraih keinginan dan berteriak mengutuk keadaan sekarang
Karena itu aku benci
Benci memiliki jiwa rapuh
Aku benci mempunyai fikiran dan hati yang terus menciptakan tekanan

Selasa, 17 Agustus 2010

Piala "Duha Award"

Sudah hampir dua minggu di rumah, banyak perkara keluarga yang membahagiakan telah saya lalui. Mulai dari yang sedikit menyedihkan sampai yang sungguh membahagiakan. Salah satunya adalah saat harus menjenguk adik bungsi di pesantren, sudah menjadi kebiasaan keluarga kami selepas lulus SD, langsung dimasukkan ke pesantren. Umi dan aba sudah terbiasa menitipkan anaknya ke pesantren. Saya, kakak dan adik semua pernah merasakan dinamika hidup di sebuah lembaga sekolah sambil nyantri. Kakak saya pesantren di solo, saya di bekasi, adik pertama di bogor dan adik yang terakhir pesantren di serpong.

Masuknya caca ke ponpes Darul Qur’an memberi nuansa yang baru dikeluarga kami. Saya, kakak, dan adik pertama memang alumnus pesantren, pesantren biasa yang kurikulumnya merupakan paduan pelajaran negeri dan kepondokan. Untuk yang satu ini, adik bungsu saya memilih pesantren yang sedikit berbeda, penggenjotan tahfiz Qur’an menjadi kelebihan pesantren ini. Sejak masih SD kelas enam, orang tua memang telah mengarahkan mentalnya untuk menjadi hafizoh, setidaknya lebih unggul hafalannya dibanding kakak-kakaknya.



Hari pertama dijenguk, sungguh mengharukan, jam satu siang kami berangkat, sampai sana sekitar pukul tiga sore. Inginnya berangkat pagi, tapi umi harus kuliah dulu. Sampai disana, ah.. rasanya baru kemarin melihat adik kecil ini masih sering berantem dan susah diatur, kini dia sudah mulai mandiri mengurus dirinya dan belajar untuk bertanggungjawab atas pelajarannya. Sedih tentu, namun inilah langkah awal bagi adik- ku untuk menjelajahi hidup dengan perkembangan usia dan kematangan mental yang mulai menanjak. Awalnya ragu, bisakah dia berpacu dalam pelajarannya. Keraguan ini ditepis dengan kabar bahagia, bahwa dirinya masuk ke level berikutnya dalam hafalan Qur’an, dari enam puluh santri, hanya tiga belas yang masuk ke tahap hafalan dan salah satunya adalah adinda Robi’atu Salsa Bila. Selamat y ca.. moga ini dapat memacu semangat untuk berprestasi.

Cekal bakal kemampuan dan semangat caca memang sudah terlihat semenjak dia SD, di lemari rumah, ada tambahan satu piala, ternya piala “Duha Award” untuk Robiatu Salsa Bila. Suatu penghargaan dari sekolah atas ke-konsistensian melaksanakan solat duha selama sekolah di SDIT. Sebelum masuk pesantren, caca sudah memiliki modal hafalan surat Al-Muluk. Orang tua sejak lama merajut keinginan agar ada salah satu dari keempat putrinya yang memiliki kemampuan hafalan Qur’an dengan baik, rupanya Allah memberi jalan di adik bungsi. Semoga niat dan keinginan dari orang tua, dapat membawa keluarga sederhana ini menunju jalan- Mu yang lebih baik y Allah, Amiiin....

Selasa, 27 Juli 2010

Belajar ikhlas dari mereka...

Bagi saya dan mungkin beberapa teman di akun blog ini, sering membaca rasa dan fikiran saya tentang teman. Segala sikap yang saya ambil bagi mereka yang menjauh. Satu apresiasi akan pertemuan dengan orang-orang baru yang kemudian berubah menjadi teman. Membosankan bagi yang membaca, mungkin. Namun untuk saya, semua perputaran kejadian selalu menarik, meski topiknya sama tetap beda makna dan emosi yang dilibatkan. Untuk itu, meski saya sadar, sudah terlalu sering menulis tentang orang-orang disekeliling, kekuatan untuk menulisnya tidak pernah pudar, menyarukan rasa malu nantinya blog ini dibilang melulu tentang teman. Disinilah ruang saya bebas bersuara, melantangkan perasaan yang tidak bisa diucapkan di forum lain. Ini blog pribadi, dan secara pribadi pula saya ingin membebaskan jiwa ini untuk menuangkan semua yang dirasa.

Bukan berarti saya individu anti sosial, tidak memerlukan orang lain untuk berbagi, tentang perasaan, emosi dan amarah. Semua itu tidak sabar ingin dituangkan dalam obrolan wanita. Hanya, untuk berbagi cerita kepada orang lain belum bisa saya muarakan pada satu orang. Belum ada dia, siapapun itu yang mampu saya relakan untuk mulut ini bercerita dan berkeluh kesah tentang semua kejadian hidup yang saya alami. Teman disekeliling kebanyakan wanita, mudah saja jika ingin berbagi. Rupanya, itu tidak mudah, tipikal kepribadian menahan saya menceritakan masalah dan jurnal kehidupan yang saya jalani. Mungkin pemikiran ini salah untuk beberapa orang. But not for me! Saya hanya memerlukan personal tunggul untuk saya berbagi, kepadanyalah, dia, pria dewasa dengan kewibawaannya, yang nantinya akan menjadikan setiap keluhan dan bahagia saya menjadi separuh dari nafas kehidupannya. Itu alasan, mengapa saya tidak bisa dengan terang mencurahkan perasaan kepada teman layaknya obrolan wanita.

Saat hati dan fikiran lelah, ada beberapa sosok baru yang mengingatkan saya untuk merasakan beban ini dengan damai. Melepas secara perlahan. Keajaiban kadang datang tidak diundang, mereka yang tidak pernah terbesit akan dekat, kini mulai menunjukkan kenyataan sekenario sang maha kuasa. Dengan segala cara pendekatannya, melalui pertemuan singkat yang mengikat kami dalam satu kerja bersama. Hasilnya, kerja singkat itu membawa saya, dan beberapa teman berbeda konsentrasi menerima persahabatan tanpa tawaran resmi diatas kertas. Teman yang kini menjadi kawan, yaitu mereka wanita-wanita unggul, yang mampu menatap kejadian dengan sudut penuh optimis, menyaring semua berita kedalam pandangan yang sangat dewasa dan bijak. Melihat setiap perbedaan dengan indah dan penerimaan yang lapang. Mendengar keburukan orang dan men-skip’nya menjadi bahan evaluasi diri.

Jika diruntut, mungkin saya akan terbingung, darimana kebersamaan ini bisa tercipta. Saya teringat sebuah, entah teori atau hanya satu pemaknaan hidup yang saya terima, bahwa kebersama tercipta jika ada satu kesamaan rasa dan cara pandang. Orang baru datang silih berganti, hanya berlalu dan tidak semuanya menjadi kawan. Bahkan ada yang kian menjauh. Saya dan beberapa teman baru saya, memiliki satu sudut pandang dan penilaian yang sama. Melihat segala keruwetan hidup dengan pandangan sederhana. Kabar penilaian buruk tentang orang-orang hanya sebagai gosip, its just having fun, that’s entertainment. Kami sadar, bahwa kekurangan orang bukanlah hal besar yang harus dipermasalahkan. Dan masalah-masalah yang datang akan ada jalan keluar dengan mental plus yang harus dibangun.