Berjuta wajah muncul di hati
Bayang semu, Sketsa semu
Diiringi kejadian autistic buatan sendiri
Berharap satu diantaranya adalah dia
Yang memilih aku dalam hidupnya
Ini rasa saat hati kembali teringat
Tentang perasaan yang kadang tenggelam terabaikan
Dan kadang muncul mengacaukan
Begini susunan kata yang bisa menggambarkan
Ada alur dan ada rasa ::
Beribu waktu berputar
tahunan umur meninggalkan
Wajarkah jika berdesakan
Karakter pendamping yang diinginkan
Hanya di otak, awang-awang, tanpa wujud yang dapat ditatap
Terpejam terlihat terang
Saat sadar semua hilang memburam
Mata membidik
Berbisik kedalam hati
Tentang dia, dia, dia, dia, dia, dia, dia, diaa
Siapapun yang dilihat mata istimewa
Di hati muncul harapan dan keinginan
Agar dia, dia, dia,dia,dia,dia,diaa bisa datang dan mengulurkan tangan
Tapi malang , ternyata hanya lewat
Datang sekali dan pergi untuk berlari tak kembali
Merasuk kecewa dan menyalahi dia,dia,dia,dia,dia,dia,dia.diaa
Mengesali orang karena tak berhasil
Pantaskah membenci
Sedang hanya diri yang melihat dan menatap
Padahal yang dipandang tak melirik apalagi merasani
Pedih kata yang menyedihkan
Berharap namun tak kunjung datang
Meminta hanya dalam hati
Yang dipinta tak menerima
Semua karena dia dia dia dia dia dia dia dia… puluhan dia
Sebentar melihat bukan memandang
Rabu, 27 Oktober 2010
Senin, 13 September 2010
Aku Gelisah...
Sebut ini pengakuan atas kebutuhan batin untuk mengingat Mu ya Allah...
Ku sandarkan kegelisahan ini hanya kepada Mu, Allah yang Maha segalanya
Semua mulai terasa tak berarti
Harapan dan impian begitu tinggi
Kerapkali mendatangkan ketegangan dan keluhan atas berjalannya kehidupan
Beban menjadi memuncah sebab keinginan
Hasrat semakin membara akibat nafsu
Mengambil, demi satu, demi satu, butiran kesabaran
Kemudian menipiskan ketebalan pasrah perlahan
Muncul berbagai sangkaan kepada YME
Mengerutkan dahi dan menebalkan amarah hati
Mempertanyakan dan mengeluhkan pergerakan waktu yang tak diharapkan
Atas realita kejadian yang tak sama... antara aku dan mereka ...
Aku mulai mengesali
Ya Robb....
Selama ini aku hanya melihat kebahagian dari hal yang sementara
Aku sibuk berfikir tentang indahnya “kebun” orang
Tentang enaknya pemberian rumput hijau yang engkau berikan di halaman dia dan mereka
Ya Robb...
Aku selalu menjadi orang yang lemah mempertahankan kepercayaan diri
Lemah melihat betapa indahnya hidup yang telah kau beri
Sibuk, sibuk, aku benci..
Sibuk perkara dunia seperti harapan dan cita-cita yang kerap melenakan
Aku benci rendah
Rendah kadar kekuatan hatiku yang selalu melihat kehidupan orang begitu indah
Kata jikalau mengapa di-adakan
Sebab itu aku selalu menggunakan
Aku benci mengatakan
Jika aku seperti mereka
Jika aku secantik mereka
Jika aku hidup dengan orang tua seperti mereka
Jika aku berjalan di jalan mereka
Jika aku
Jika aku
Jika aku
Tanpa usai...
Setiap selesai mengucap
Batin ini menjadi begitu tak tentram
Fikiran menyekap pada keindahan yang semu
Hati mendesak meraih keinginan dan berteriak mengutuk keadaan sekarang
Karena itu aku benci
Benci memiliki jiwa rapuh
Aku benci mempunyai fikiran dan hati yang terus menciptakan tekanan
Ku sandarkan kegelisahan ini hanya kepada Mu, Allah yang Maha segalanya
Semua mulai terasa tak berarti
Harapan dan impian begitu tinggi
Kerapkali mendatangkan ketegangan dan keluhan atas berjalannya kehidupan
Beban menjadi memuncah sebab keinginan
Hasrat semakin membara akibat nafsu
Mengambil, demi satu, demi satu, butiran kesabaran
Kemudian menipiskan ketebalan pasrah perlahan
Muncul berbagai sangkaan kepada YME
Mengerutkan dahi dan menebalkan amarah hati
Mempertanyakan dan mengeluhkan pergerakan waktu yang tak diharapkan
Atas realita kejadian yang tak sama... antara aku dan mereka ...
Aku mulai mengesali
Ya Robb....
Selama ini aku hanya melihat kebahagian dari hal yang sementara
Aku sibuk berfikir tentang indahnya “kebun” orang
Tentang enaknya pemberian rumput hijau yang engkau berikan di halaman dia dan mereka
Ya Robb...
Aku selalu menjadi orang yang lemah mempertahankan kepercayaan diri
Lemah melihat betapa indahnya hidup yang telah kau beri
Sibuk, sibuk, aku benci..
Sibuk perkara dunia seperti harapan dan cita-cita yang kerap melenakan
Aku benci rendah
Rendah kadar kekuatan hatiku yang selalu melihat kehidupan orang begitu indah
Kata jikalau mengapa di-adakan
Sebab itu aku selalu menggunakan
Aku benci mengatakan
Jika aku seperti mereka
Jika aku secantik mereka
Jika aku hidup dengan orang tua seperti mereka
Jika aku berjalan di jalan mereka
Jika aku
Jika aku
Jika aku
Tanpa usai...
Setiap selesai mengucap
Batin ini menjadi begitu tak tentram
Fikiran menyekap pada keindahan yang semu
Hati mendesak meraih keinginan dan berteriak mengutuk keadaan sekarang
Karena itu aku benci
Benci memiliki jiwa rapuh
Aku benci mempunyai fikiran dan hati yang terus menciptakan tekanan
Selasa, 17 Agustus 2010
Piala "Duha Award"
Sudah hampir dua minggu di rumah, banyak perkara keluarga yang membahagiakan telah saya lalui. Mulai dari yang sedikit menyedihkan sampai yang sungguh membahagiakan. Salah satunya adalah saat harus menjenguk adik bungsi di pesantren, sudah menjadi kebiasaan keluarga kami selepas lulus SD, langsung dimasukkan ke pesantren. Umi dan aba sudah terbiasa menitipkan anaknya ke pesantren. Saya, kakak dan adik semua pernah merasakan dinamika hidup di sebuah lembaga sekolah sambil nyantri. Kakak saya pesantren di solo, saya di bekasi, adik pertama di bogor dan adik yang terakhir pesantren di serpong.
Masuknya caca ke ponpes Darul Qur’an memberi nuansa yang baru dikeluarga kami. Saya, kakak, dan adik pertama memang alumnus pesantren, pesantren biasa yang kurikulumnya merupakan paduan pelajaran negeri dan kepondokan. Untuk yang satu ini, adik bungsu saya memilih pesantren yang sedikit berbeda, penggenjotan tahfiz Qur’an menjadi kelebihan pesantren ini. Sejak masih SD kelas enam, orang tua memang telah mengarahkan mentalnya untuk menjadi hafizoh, setidaknya lebih unggul hafalannya dibanding kakak-kakaknya.
Hari pertama dijenguk, sungguh mengharukan, jam satu siang kami berangkat, sampai sana sekitar pukul tiga sore. Inginnya berangkat pagi, tapi umi harus kuliah dulu. Sampai disana, ah.. rasanya baru kemarin melihat adik kecil ini masih sering berantem dan susah diatur, kini dia sudah mulai mandiri mengurus dirinya dan belajar untuk bertanggungjawab atas pelajarannya. Sedih tentu, namun inilah langkah awal bagi adik- ku untuk menjelajahi hidup dengan perkembangan usia dan kematangan mental yang mulai menanjak. Awalnya ragu, bisakah dia berpacu dalam pelajarannya. Keraguan ini ditepis dengan kabar bahagia, bahwa dirinya masuk ke level berikutnya dalam hafalan Qur’an, dari enam puluh santri, hanya tiga belas yang masuk ke tahap hafalan dan salah satunya adalah adinda Robi’atu Salsa Bila. Selamat y ca.. moga ini dapat memacu semangat untuk berprestasi.
Cekal bakal kemampuan dan semangat caca memang sudah terlihat semenjak dia SD, di lemari rumah, ada tambahan satu piala, ternya piala “Duha Award” untuk Robiatu Salsa Bila. Suatu penghargaan dari sekolah atas ke-konsistensian melaksanakan solat duha selama sekolah di SDIT. Sebelum masuk pesantren, caca sudah memiliki modal hafalan surat Al-Muluk. Orang tua sejak lama merajut keinginan agar ada salah satu dari keempat putrinya yang memiliki kemampuan hafalan Qur’an dengan baik, rupanya Allah memberi jalan di adik bungsi. Semoga niat dan keinginan dari orang tua, dapat membawa keluarga sederhana ini menunju jalan- Mu yang lebih baik y Allah, Amiiin....
Masuknya caca ke ponpes Darul Qur’an memberi nuansa yang baru dikeluarga kami. Saya, kakak, dan adik pertama memang alumnus pesantren, pesantren biasa yang kurikulumnya merupakan paduan pelajaran negeri dan kepondokan. Untuk yang satu ini, adik bungsu saya memilih pesantren yang sedikit berbeda, penggenjotan tahfiz Qur’an menjadi kelebihan pesantren ini. Sejak masih SD kelas enam, orang tua memang telah mengarahkan mentalnya untuk menjadi hafizoh, setidaknya lebih unggul hafalannya dibanding kakak-kakaknya.
Hari pertama dijenguk, sungguh mengharukan, jam satu siang kami berangkat, sampai sana sekitar pukul tiga sore. Inginnya berangkat pagi, tapi umi harus kuliah dulu. Sampai disana, ah.. rasanya baru kemarin melihat adik kecil ini masih sering berantem dan susah diatur, kini dia sudah mulai mandiri mengurus dirinya dan belajar untuk bertanggungjawab atas pelajarannya. Sedih tentu, namun inilah langkah awal bagi adik- ku untuk menjelajahi hidup dengan perkembangan usia dan kematangan mental yang mulai menanjak. Awalnya ragu, bisakah dia berpacu dalam pelajarannya. Keraguan ini ditepis dengan kabar bahagia, bahwa dirinya masuk ke level berikutnya dalam hafalan Qur’an, dari enam puluh santri, hanya tiga belas yang masuk ke tahap hafalan dan salah satunya adalah adinda Robi’atu Salsa Bila. Selamat y ca.. moga ini dapat memacu semangat untuk berprestasi.
Cekal bakal kemampuan dan semangat caca memang sudah terlihat semenjak dia SD, di lemari rumah, ada tambahan satu piala, ternya piala “Duha Award” untuk Robiatu Salsa Bila. Suatu penghargaan dari sekolah atas ke-konsistensian melaksanakan solat duha selama sekolah di SDIT. Sebelum masuk pesantren, caca sudah memiliki modal hafalan surat Al-Muluk. Orang tua sejak lama merajut keinginan agar ada salah satu dari keempat putrinya yang memiliki kemampuan hafalan Qur’an dengan baik, rupanya Allah memberi jalan di adik bungsi. Semoga niat dan keinginan dari orang tua, dapat membawa keluarga sederhana ini menunju jalan- Mu yang lebih baik y Allah, Amiiin....
Langganan:
Postingan (Atom)