Sungguh mengharukan, wanita yang sangat saya kagumi itu kembali memberi sebuah kejutan. Lagi-lagi di tengah rutinitasnya yang tidak lengang, ia mau membalas email dari saya. Email yang mungkin tidak begitu penting, tapi sangat berarti. Sebuah balasan email yang mampu menenangkan segala urat resah.
Mala it's a beautiful surprise, makasih untuk email ini. Aku tak pernah menduga bahwa sepucuk email yang aku kirimkan sebagai balasan emailmu saat itu ternyata begitu berarti bagi kamu dan menjadi penyemangat bagi kamu untuk terus menulis.
You know what? this email also so meaningful to me, I've never thought that my small contribution could provide a bunch of energy to someone potential like you to keep walking with your passion in writing..
Am not an idol it's an honored if you positioned me that way, am just an ordinary person who never stop learning. Am going to Ohio University to continue my study this fall semester with a scholarship from the University..
Never give up your dream, chase it like there's no tomorrow, give your fullest energy in anything that you work for.. you'll never know what is waiting for you at the end of the tunnel
stay in touch ya Mala, stay strong and persistent in writing and everything in your life, keep the fire on and walk with it :)
cheers
nenden
Tiga tahun lalu, saat Tuhan mempertemukan saya dengannya melalui acara kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, penampilannya begitu mempesona, seorang wanita pandai yang memiliki kemampuan kuat serta wawasan yang luas menggiurkan mimpi saya untuk bangun dan terus berlari mengejar tujuan. Inilah sosok yang selalu saya bayangkan akan menjadi sepertinya sejak 12 tahun yang lalu
Selepas kuliah umum, saya memberanikan diri untuk mengirim emai kepadanya, saya fikir tak mengapa karena mb nenden memberikan alamat emailnya, itu petanda bahwa dirinya siap menerima email bukan? hanya saja, ada sedikit kekhawatiran kala itu, akankah email itu akan berbalas? Sambil malu-malu dan gelisah, saya putuskan untuk mengirim Email yang berisi perkenalan singkat dan sedikit cerita di dalamnya. Pertimbangan waktu itu, biarlah tak berbalas yang penting saya sudah berusaha.
Tidak sampai menunggu berminggu bahkan berbulan lamanya, email saya berbalas, semakin meninggilah rasa hormat dan kagum saya kepadanya. Bukankah saya hanya pemula yang bagi sebagian orang setingkatnya hanya memenuhi inbox, sangat pantas untuk diabaikan. Namun, email saya berbalas!! Laksana menerima hadiah berlian, semenjak itu saya nobatkan dalam hati bahwa mba adalah sosok idola saya. Membalas email dengan sangat lugas dan melindungi. Baginya, saya adalah pemula potensial yang sedang berusaha mencari sebuh perjalanan nyata. Bukan anak ingusan yang merengek mengeluh tanpa tujuan. Ia mengajarkan saya untuk fokus dan tidak menyerah “jangan takut komentar orang atau penilaian apapun, lama-lama kamu akan bisa memilah mana komentar yang konstruktif mana yang hanya ingin menghancurkan rasa percaya dirimu” katanya, di balasan email pertama.
Selang beberapa tahun sejak email pertama itu saya layangkan, kali ini untuk kedua kalinya saya menyapa mba dengan kekaguman yang masih sama persis seperti dulu. Bahkan bertambah besar.
Lagi-lagi ia membalas email saya, kali ini dengan energi yang jauh lebih besar dan kuat. Terimakasih mb, terimakasih untuk setiap balasan email...
Jumat, 15 Juli 2011
Minggu, 26 Juni 2011
Sepekan, aku khilaf…
Begini rupanya rasa itu, rasa mencari pengalaman yang diberi semesta. Keras dan begitu melelahkan. Sudah hampir sepekan aku memaksakan diri untuk berdiri, mencari dan berlari, sampai kadang peluh tak terbendung, letih raga dan emosi, aku hantam habis, seperti aku menerobos kacaunya jalanan ibu kota. Semua ku lakukan demi mencari pengalaman.
Meski usaha itu berlum berbuah, akankah aku menyerah?? jika setiap tetes keringat yang nampak sia-sia sebetulnya memberi arti dan pengalaman yang sangat berharga. Aku hanya perlu untuk membuka mata, melihat dengan teliti, dan semuanya nampak penuh hikmah.
Setiap langkah yang terlihat gontai sesungguhnya berisi kemantapan.
Setiap desahan napas, sesungguhnya bertanda sebuah keputusan. Kesempatan yang harus aku tinggalkan.
Aku bimbang di awal, haruskah aku tinggalkan menara itu, menara yang menawarkan kemegahan dan prestisius tinggi?! Aku kembali bertanya dalam diri, benarkah aku berani meninggalkan permainan itu, sebuah permainan yang sangat erat dengan para hartawan dunia ini, yang jika ku tekuni, bisa saja aku berubah seperti mereka. Dan ku putuskan untuk meninggalkan itu semua. Aku melawan arus, berjalan menuju bumi dimana sebagian lain beranjak menuju langit.
Aku tersadar bahwa aku melupakan sebuah kebahagian terdalam dalam diri. Aku berburu pekerjaan di menari, dan lupa akan kegiatan menulis. Sebuah impian yang sudah tertanam sejak aku masih di bangku SMA dulu. Aku tidak menginginkan jabatan keren dengan kostum super mahal layaknya atasan sebuah perusahaan. Bagiku kegiatan terindah adalah saat menuliskan sebuah gagasan maupun kejadian yang dapat memberikan dampak positif bagi orang lain. Bukankah itu, mengapa aku membuat akun blog ini, dan mengikuti kegiatan buletin kampus saat masih kuliah. Bekerja keras memeras otak demi menuliskan dua ribu karakter kata agar dimuat di Koran harian lokal. Kadang kesal namun memuaskan saat huruf terakhir di tuliskan.
Sepekan, aku khilaf, melupakan menulis untuk mencari posisi indah di menara menjulang tinggi. Dan kini, aku kembali, untuk sebuah ketenangan dan kedamaian yang ku cari. Sungguh tenang dan membahagiakan.
Meski usaha itu berlum berbuah, akankah aku menyerah?? jika setiap tetes keringat yang nampak sia-sia sebetulnya memberi arti dan pengalaman yang sangat berharga. Aku hanya perlu untuk membuka mata, melihat dengan teliti, dan semuanya nampak penuh hikmah.
Setiap langkah yang terlihat gontai sesungguhnya berisi kemantapan.
Setiap desahan napas, sesungguhnya bertanda sebuah keputusan. Kesempatan yang harus aku tinggalkan.
Aku bimbang di awal, haruskah aku tinggalkan menara itu, menara yang menawarkan kemegahan dan prestisius tinggi?! Aku kembali bertanya dalam diri, benarkah aku berani meninggalkan permainan itu, sebuah permainan yang sangat erat dengan para hartawan dunia ini, yang jika ku tekuni, bisa saja aku berubah seperti mereka. Dan ku putuskan untuk meninggalkan itu semua. Aku melawan arus, berjalan menuju bumi dimana sebagian lain beranjak menuju langit.
Aku tersadar bahwa aku melupakan sebuah kebahagian terdalam dalam diri. Aku berburu pekerjaan di menari, dan lupa akan kegiatan menulis. Sebuah impian yang sudah tertanam sejak aku masih di bangku SMA dulu. Aku tidak menginginkan jabatan keren dengan kostum super mahal layaknya atasan sebuah perusahaan. Bagiku kegiatan terindah adalah saat menuliskan sebuah gagasan maupun kejadian yang dapat memberikan dampak positif bagi orang lain. Bukankah itu, mengapa aku membuat akun blog ini, dan mengikuti kegiatan buletin kampus saat masih kuliah. Bekerja keras memeras otak demi menuliskan dua ribu karakter kata agar dimuat di Koran harian lokal. Kadang kesal namun memuaskan saat huruf terakhir di tuliskan.
Sepekan, aku khilaf, melupakan menulis untuk mencari posisi indah di menara menjulang tinggi. Dan kini, aku kembali, untuk sebuah ketenangan dan kedamaian yang ku cari. Sungguh tenang dan membahagiakan.
Sabtu, 21 Mei 2011
Ditantang jadi enterpreuner…
Ingin ku hirup dalam-dalam bau aroma ini, wangi khas ketika langit akan turun hujan. Ingin lama-lama ku rasakan terpaan angin ini, angin yang datang sebelum hujan turun. Damai, sungguh damai.
Hi, kamu yang di sana!! Jangan!! jangan tutup pintu itu, jangan halangi aroma ini, jangan halangi angin itu. Biarkan dia masuk. Mendatangi setiap rasa yang ku rasa. Orang yang ku teriaki menurut. Sambil terpejam ku coba hidupkan panca indera ku yang lain, telinga dan hidung, ku biarkan bekerja, mendengarkan dan menghirup dalam-dalam udara ini. Sepuas-puas mereka mau. Ku biarkan. Rupa-rupanya… dengan begini dapat sekejap mengendorkan syaraf-syaraf berfikir. Begitu sejuk dan begitu tenang, aku pasrah. Setidaknya ada Yang Maha Kuasa bersamaku.
Belakangan memang aku gelisah, berharap semua impian dapat segera datang. Waktu semakin menipis, sedang tanda tak kunjung datang. Seorang teman tadi pagi mengingatkan aku bahwa mengapa mesti menghawatirkan pekerjaan, mengapa tidak menerapkan entrepreneur dalam hidup ini, sambil terus panjang lebar ia menjelaskan, bahwa mengapa pemuda Indonesia hanya berfikir mencari kerja sedangkan keseimbangan ekonomi bukan hanya melalui usaha makro tetapi juga melalui sector mikro. Dengan masih menggebu, teman saya terus berbicara, saya mendengarkan, katanya dia sudah merancang sebuah proyek usaha di kampung asalnya sana, membuka lapangan pekerjaan adalah impian dia.
Saya teringat, teman saya yang satu ini memang memiliki beberapa proyek besar dalam hidupnya, di pekan lalu, ia juga sempat menjelaskan kepada saya bahwa nantinya ia akan membangun sebuah rumah impian di bawah kaki gunung dengan kolam renang dan perpustakaan pribadi yang tenang. Saya mengamini harapan dia waktu itu karena saya percaya bahwa ia mampu. Dan kini, ketika ia kembali menyarankan saya untuk menjadi seorang entrepreneur, rasa-rasanya saya tergoda. Cuma, pagi itu saya masih me-mending pembicaraan lebih lanjut tentang buka usaha. Modal yang menjadi kendala saya, mau pinjam ke orang tua, kayanya sedikit berat, malu. Sampai disitu - selesai, saya tidak lagi memikirkan.
Siang harinya, ketika sedang nonton tv, ada iklan majalah elshinta yang menyinggung tentang pengusaha sukses, tak disangka tak diduga, orang tua, ibu saya yang ada disamping, nyeletuk menantang saya untuk buka usaha. Wah.. laksana angin mendayu, segera saya timpali tawaran ibu saya itu, memastikan maukah beliau memberi modal?? Berkali-kali saya pastikan, benarkah?. Dengan mantap ibu saya kembali menantang, oke gampang modalnya, sekarang mau usaha apa?? – waduh.. saya bingung mau usaha apa, orang terfikirnya baru tadi pagi… tidak mau asal sebut, takut sang pemilik modal mundur karena pilihan saya tidak tepat, akhirnya saya bilang, nanti saya fikirkan dulu usaha apa yang berprospek di bekasi ini… lagi-lagi saya memberendong ibu, memastikan benarkah mau memberi saya modal??? Beliau berkata.. iya’ anak ku…
Dan kini….. ada yang bisa memberi saran..?? usaha apa yang berprospek di bekasi sini…??? Tik.tik.tik.tik.tik….. –berfikir
Hi, kamu yang di sana!! Jangan!! jangan tutup pintu itu, jangan halangi aroma ini, jangan halangi angin itu. Biarkan dia masuk. Mendatangi setiap rasa yang ku rasa. Orang yang ku teriaki menurut. Sambil terpejam ku coba hidupkan panca indera ku yang lain, telinga dan hidung, ku biarkan bekerja, mendengarkan dan menghirup dalam-dalam udara ini. Sepuas-puas mereka mau. Ku biarkan. Rupa-rupanya… dengan begini dapat sekejap mengendorkan syaraf-syaraf berfikir. Begitu sejuk dan begitu tenang, aku pasrah. Setidaknya ada Yang Maha Kuasa bersamaku.
Belakangan memang aku gelisah, berharap semua impian dapat segera datang. Waktu semakin menipis, sedang tanda tak kunjung datang. Seorang teman tadi pagi mengingatkan aku bahwa mengapa mesti menghawatirkan pekerjaan, mengapa tidak menerapkan entrepreneur dalam hidup ini, sambil terus panjang lebar ia menjelaskan, bahwa mengapa pemuda Indonesia hanya berfikir mencari kerja sedangkan keseimbangan ekonomi bukan hanya melalui usaha makro tetapi juga melalui sector mikro. Dengan masih menggebu, teman saya terus berbicara, saya mendengarkan, katanya dia sudah merancang sebuah proyek usaha di kampung asalnya sana, membuka lapangan pekerjaan adalah impian dia.
Saya teringat, teman saya yang satu ini memang memiliki beberapa proyek besar dalam hidupnya, di pekan lalu, ia juga sempat menjelaskan kepada saya bahwa nantinya ia akan membangun sebuah rumah impian di bawah kaki gunung dengan kolam renang dan perpustakaan pribadi yang tenang. Saya mengamini harapan dia waktu itu karena saya percaya bahwa ia mampu. Dan kini, ketika ia kembali menyarankan saya untuk menjadi seorang entrepreneur, rasa-rasanya saya tergoda. Cuma, pagi itu saya masih me-mending pembicaraan lebih lanjut tentang buka usaha. Modal yang menjadi kendala saya, mau pinjam ke orang tua, kayanya sedikit berat, malu. Sampai disitu - selesai, saya tidak lagi memikirkan.
Siang harinya, ketika sedang nonton tv, ada iklan majalah elshinta yang menyinggung tentang pengusaha sukses, tak disangka tak diduga, orang tua, ibu saya yang ada disamping, nyeletuk menantang saya untuk buka usaha. Wah.. laksana angin mendayu, segera saya timpali tawaran ibu saya itu, memastikan maukah beliau memberi modal?? Berkali-kali saya pastikan, benarkah?. Dengan mantap ibu saya kembali menantang, oke gampang modalnya, sekarang mau usaha apa?? – waduh.. saya bingung mau usaha apa, orang terfikirnya baru tadi pagi… tidak mau asal sebut, takut sang pemilik modal mundur karena pilihan saya tidak tepat, akhirnya saya bilang, nanti saya fikirkan dulu usaha apa yang berprospek di bekasi ini… lagi-lagi saya memberendong ibu, memastikan benarkah mau memberi saya modal??? Beliau berkata.. iya’ anak ku…
Dan kini….. ada yang bisa memberi saran..?? usaha apa yang berprospek di bekasi sini…??? Tik.tik.tik.tik.tik….. –berfikir
Langganan:
Postingan (Atom)