Laman

Minggu, 09 Oktober 2011

My effort (1) - "Hyun Bin"

 Preface
Starting from this day may be u will look my blog  including folders by tittle “my effort”  an english. That is will be continue and i yield foot note there like  symbol “(1)” in behind– as a chapter for each part. This is just my way, my effort to improve my english, so i’m started from several days ago to writing something  with surface questions like what do u think about someone i was interested and than make a description. I’m preceived that the wise word “u can if u want” is lacking. You can if u want and.. if u make it become true with an act, so “my effort” its partially for my action to make me can speak english well.  

Finally, may be u will meet many mistakes on my grammar, please tell me where are wrongs and don't blame me with your despise, i need your help to support me...  and than bellow are the first of my effort.  Talk about Hyun Bin. 

My effort (1) - “Hyun Bin comes to Jakarta” 

What do u think about korean actress especially  Hyun Bin?

In the last night, i got messages from my friend said that Hyun Bin, once of Korean actress he will come to Jakarta at date 04 until  07 sept 2011, he comes about promotions korea’s military. My friend explained If u want to meet him, so u must  join to twitter’s indonesia fans club Hyun Bin, they are @HyunBinnieID, or @BinnieloversIND, or @debbyAgain, they were official administrations of Hyun Bin’s fans club, all about activities Hyun Bin during visited Indonesia, available there. The profit when you follow them, you  will more easy to access in that event and have an avenue to stand in good place there. 

So u know what, my friend and me stay on twitter last night to register meet Hyun Bin. The registry opened at 21.00 pm and u must be faster, only 500 quota and just needed 30 minuts to closed when administrator said qoute is full.

 After registrations u  just  waiting conformations from administrator, they will send announcement on your email, if u are lucking you will got resent email that u are acquiring invitations. Several hours i'm waiting and hope there was a new email for  me.  But its no comes early, anxious, make me crazy..! and i decided to offline, hope the next morning there an email. 

At early morning i wake up faster than before and direct check my inbox, there are certain a new email, oh god.. with cauntions i opened, and than... unbelievable!! thanks god.. i got re-email... so Hyun Bin c y... on 06 Oktober 2011 at Lapangan Marinir, Cilandak, Jakarta



__*****__

Hyun Bin has become famous in Indonesia, particulary from indonesian womens because he handsome and had tamper at drama korean “Secret Garden”- its most popularly drama today- are affectionate, assertive but not overly arrogant, still have soft-hearted or warm, composed, perhaps showing be a perfect men, that inferences may be drawn everyone to impression about him.  


I made a decision to come on his event, its not about he was my idol. But i just wanna know how situations there, have a new experience, can see directly how disorder there. How enthusiastic people there. How alertness from event organize and how Hyun Bin performance infront of his audience. I’m not really hope that i can meet Hyun Bin closed, but i hope can takes some good photos situations there, to be a story of my journey next day...




Rabu, 28 September 2011

Ini Sentilan Kecil Tuhan...

Sebagian orang mengatakan bahwa kegagalan adalah kemenangan yang tertunda, bagi saya gagal berarti telah hilang satu kesempatan, gagal ya gagal, tidak ada kemenangan, yang ada hanya berharap akan ada keberuntungan lain.  

Tidak ada yang saya takuti dari gagal, mereka ada untuk memberi pelajaran, menjadi matang setelah gagal. Menjadi kuat dan lebih cermat setelah gagal.

Dikesempatan kemarin mungkin saya tidak berhasil karena tidak mampu mempresentasikan diri dengan baik. Dongkol dengan penguji? buat apa?? Ia tidak salah, yang salah adalah saya. Ada yang kurang, ada hal-hal yang harus dimatangkan kembali. Benar status teman saya mengatakan bahwa untuk tidak membiarkan pergi impian caranya adalah dengan menjadi smart, be sharp, be brave and be your self. Inilah komponen yang harus saya kuasai kembali. 

Selama ini mungkin saya terlalu nyaman dengan pengetahuan dan pengalaman yang saya punya, padahal perkembangan ilmu terus bergerak. Selama ini mungkin saya terlalu percaya diri telah menjadi pribadi yang memiliki pemikiran kritis padahal tidak. Selama ini mungkin saya mengira bahwa saya telah menjadi orang yang berani, namun saya salah, itu hanya emosi sesaat yang tidak pantas dikatakan keberanian. Selama ini mungkin saya sering meremehkan kemampuan orang lain dengan selalu berfikir “be your self” padahal saat saya berkata demikian, teman-teman saya telah jauh berlari meraih cita.

Kegagalan telah memperlihatkan kepada saya bahwa selama ini saya salah, bukan alam dengan semua pemberiannya yang salah, tetapi manusia yang kerap kali sombong. Jika dikatakan bahwa kadar keimanan seseorang seringkali naik turun begitupun dengan kadar kekuatan semangat, kadang meningkat kadangkala menurun. Hanya, beruntunglah saya memiliki Tuhan yang selalu mengingatkan dengan sentilan-sentilanNya.

Rahmat dan hikmah selalu ada di setiap celah perkara yang nampak tidak ada faedahnya. Jika tidak didunia maka diakhirat akan ada yang dituai. Saya mempercayai itu.

"Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan…. ?!"

Rabu, 14 September 2011

Sekufu atau tidak sekufu?

Get Married 3, sebuah film komedi yang disutradarai Hanung Bramantyo akhirnya saya tonton juga. Selain melihat iklan promonya di acara musik, film ini menjadi film rujukan dari beberapa teman. Lumayan buat bikin ketawa. 

Bagi saya pribadi, get married 3 kurang begitu kocak dibanding film sebelumnya. Ceritanya hanya membahas masalah suami istri yang baru punya anak. Mae mengalami baby blues dan ketiga teman  mae mulai mengalami pergerakan karir yang  unik.

Pesan yang ingin diangkat adalah mengenai ikatan keluarga, bahwa betapapun permasalahanya, keluarga merupakan pelabuhan satu-satunya dari semua kegiatan dunia.


Secara keseluruhan, lika-liku konflik yang ditampilkan film ini normal-normal saja, biasa-biasa saja, tidak terlalu banyak menguras emosi, yang menarik dan menjadi konsentrasi pribadi saya adalah bahwa pasangan pernikahan seperti mae dan rendy terbilang langka. Dalam hidup yang mengajarkan manusia untuk memandang kelas dan kasta sosial, akan sulit bagi seorang mae (dalam kehidupan nyata) mendapat pria seperti rendy yang kaya lagi terpelajar. Kalau tidak benar-benar nekat  cowonya. Hal ini diikuti dengan banyaknya penasehat yang mengajarkan untuk mencari pasangan yang sekufu. Baik dalam tingkatan ekonomi dan juga masalah pendidikan. Tujuannya untuk menghindari kesenjangan pandang yang begitu mencolok, kelak. 
Berbagai tulisan memuat tanggapan dari para pakar bergelar M.Si, Psi, MA, S.Ag mengenai betapa berpengaruhnya sekufu bagi pria dan wanita dalam berumah tangga. Berjauhan kadar pengetahuan dan pengalaman akan sulit mempersatukan kesamaan berfikir, ujungnya salah satu pihak mungkin akan merasa tidak dipahami pemikirannya oleh pasangan, ini yang dikhawatirkan dapat menjadi pemicu tidak berjalan harmoni sebuah keluarga. 
Muncul anggapan dari obrolan ala-ala kantin dan warung lesehan, kalau anak pengusaha pasti mudah mendapat pasangan yang cantik atau ganteng. Kalau anak cendikia pasti pasangannya turunan priai, kaya dan berpendidikan. Tentu ini hanya sekedar anggapan ringan tanpa teori yang pasti, namun setidaknya inilah yang terbenak di fikiran beberapa orang dalam memaknai arti sekufu. Lantas perlukah ini diyakini?? Mari lihat keadaan yang ditunjukkan alam.
Kehidupan dengan berjuta kisah yang disajikan, aneh dan kadang suka tidak sampai dilogika, memberi sejuta jawab dengan sebuah fakta. Wanita dewasa lulusan S1 menikah dengan pria lulusan SD, benar-benar ada dan terjadi. Jawaban dari keanehan ini terlontar “saya dan suami selama ini tidak mengalami kendala komunikasi yang cukup berarti, untuk saling mengerti, kami sama-sama banyak membaca buku”. Ada lagi seorang wanita nan hebat, berpendidikan tinggi, sering bepergian ke luar negeri guna berdiskusi dengan orang-orang pintar, menikah dengan pria biasa ber-profesi  guru. Jomplang memang, tapi inilah sedikit kisah yang ada.  

Kisah ini tentu tergantung individu. Bagi saya pribadi, akan tidak mungkin seseorang menentukan sikap tanpa ada argumentasi sebelumnya. Apa pun itu, masing-masing berhak menentukan jalan dan cara apa yang digunakan untuk mengambil sebuah keputusan. Termasuk berhak menentukan standar kualitas bagi pasangan.