Laman

Minggu, 19 Agustus 2012

Thanks God, cara-Mu begitu indah...

Allah akan memberi jalan bagi siapapun yang meminta, hanya waktu dan dengan cara bagaimana, itu yang sering belum terlihat.

Berbulan-bulan terakhir, sebelum Allah memperlihatkan cara-Nya… saya begitu jengkel dan marah. Mengapa semua rencana dan keinginan begitu sulit dikabulkan. Salah saya apa ya Allah!!

Berbagai literature mengenai kesabaran dan ujian hidup saya cari dan saya baca. Kerja keras berdamai dengan hati sungguh bukan perkara mudah.  Jatuh bangun saya mengeluh, menangis dan terus bertanya, Mengapa? Mengapa? Mengapa? – sampai berbulan-bulan tak ada jawab. Kesalnya bukan main. 

Beberapa kali Allah menunjukkan kesempatan. Saya ikuti kesempatan itu, dan hasilnya belum rezeki. Begitu terus berulang berkali-kali. Sampai-sampai standar cita-cita yang tinggi saya kendorkan, tetap Allah tidak memberi. Gagal lagi! Kecewa lagi! 

Sampai saya berfikir, mungkin ada yang salah, ada hijab yang begitu besar menghalangi do’a saya. Tapi apa? Saya tidak tahu… untuk mengetahuinya harus tanyakan ke orang lain, apa yang kurang dan salah dalam sikap ini. 

Saya butuh komentator!.

Sosok pertama yang saya ingat adalah kakak, karena dia yang tahu mengenai sikap, pemikiran dan karakter saya. Pertama-tama, kakak menyarankan untuk meminta maaf kepada orang tua. Saya ikuti. Kemudian bersedekah. Saya ikuti. Kemudian tahajut. Saya ikuti. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan bahkan lima bulan saya tunggu, saat hampir mulai putus asa, Allah datang dengan ‘tangannya’ memberikan sebuah kesempatan lagi kepada saya.

Saat itu saya fikir, ini kesempatan yang mudah dengan segala kompetensi yang saya punya. Saya percaya kali ini pasti Allah menunjukkan Kerohiman-Nya.

Tetapi, nasib buruk tak bisa ditolak, Allah masih menunda kebahagian saya. Saya dinyatakan tidak lulus seleksi!

Mengetahui itu,  saya setres mendekati frustasi. Stress-full. Dalam lirih saya berkata “ya sudah ya Allah, hamba pasrah”. Satu tahun bukan waktu yang sebentar, namun jika dalam satu tahun dengan sekian kali kegagalan bisa hamba lalui, kali ini juga pasti bisa. 

Dilemanya bukan main, berkecamuk jadi satu antara kesal dan mengasihi diri sendiri. Malang betul nasib ini..!!

“Jika apa yang diharapkan belum tercapai, tak usah bersedih, selama masih ada hari, kesempatan akan selalu ada... yg dituntut hanya usaha..!!! selamat berusaha..!” – kata-kata ini yang saya tulis dalam akun jejaring sosial untuk menyemangati diri sendiri waktu itu.

Satu hari kemudian, saya melakukan perjalanan silaturrahmi mengunjungi teman untuk me-refreshing’kan diri. Sebaik-baik tawa yang terbahak-bahak adalah ketika bersilaturrahmi dengan teman dan saudara. Berbagi cerita, pengalaman, dan mengenang masa-masa lalu. 

Cara ini sangat ampuh untuk me-recharging semangat. 

Saya pulang ke rumah dalam  keadaan bersemangat dan mulai melupakan kegagalan kemarin, dalam qolbu berkata innallahama’ani (sesungguhnya Allah bersama saya) dan satu kutipan yang saya ingat bahwa “Doa memiliki takaran, syarat, sebab, prolog, kerja keras, dan bahkan pengorbanan yang besar”. Mungkin pengorbanan saya kurang besar, kerja keras saya kurang keras dan prolog cerita hidup saya belum selesai, maka apa yang diinginkan belum tercapai. Tak mengapa. Yang dituntut hanya usaha, maka berusahalah mal..! 

Hari berikutnya, Subhanallah.. semua tangis, keluh dan kepasrahan saya mendapat respon baik dari Allah, tempat yang kemarin saya dinyatakan tidak lulus seleksi menelephone saya untuk interview ulang dan hari seninya saya sudah harus masuk. Sebabnya ada satu staff baru yang harus ikut suami pindah daerah, sehingga membutuhkan pengganti. 

Subhanallah, ini kejadian begitu cepat, kamis saya tahu tidak lulus, jum’at ada yang mengundurkan diri, dan sabtunya saya dipanggil interview ulang, senin sudah masuk. Rupanya dalam kepasrahan Allah menunjukkan jalan. Dan saya ingat betul, ketika sedang bersilaturrahmi ke teman lama, saya nyeletuk berkata bahwa senin saya sudah masuk kerja. Padahal saya sudah tahu tidak dirokemendasikan, dan tidak mungkin senin masuk kerja. Tapi rupanya, Allah mengatakan ‘kun’ maka terjadilah. Sungguh-sungguh jawaban doa yang begitu indah… memberi jalan dengan cara yang tidak disangka… 

Pelajaran apa yang bisa saya ambil dari ini semua? Bahwa terjatuh memang sakit, namun dari jatuh itu saya belajar untuk mengasah mental. Jalannya memang panjang, kelokannya banyak nan mengular. Seperti ‘kelokan seribu’ dalam sebuah buku. Inilah hidup, tidak mudah. Saya teringat perkataan John F Kennedy, ia berkata “don’t pray for easy life, pray to be a stronger man”. Jalan saya tidak mudah, tapi itu yang membuat saya menjadi pribadi yang kuat “tak mengapa lambat, dari situ akan belajar kematangan dari proses” kata sebuah prolog film korea.

Minggu, 01 Juli 2012

Pesona Desa...


Di dekat kita masih ada yang seperti ini : mandi, cuci pakaian, cuci piring, buang air besar dan kecil sampai berwudhu  di sungai.  

Berderatan >> sebelah kiri buang air, sebelahnya mandi, sebelahnya lagi cuci piring dan baju, sebelah lagi gosok gigi, sampingnya menciduk air dimasukkan ke tong untuk kemudian diangkut (harap saya itu tidak untuk konsumsi), di tengah-tengah ada bebek sedang asyik berenang. 


 

Meski begitu, desa ini begitu bersahaja.. tenang dan ramah..



Sabtu, 23 Juni 2012

Selamat Ulang Tahun Jakarta ku Sayang, Jakarta ku Malang


22 Juni 2012 Jakarta ulang tahun, banyak yang memberi komentar : jakarta ituu... banjir, macet, pengap, geraah... – yang baik-baik tentang Jakarta jarang. Paling-paling komentar netral seperti : Jakarta adalah kota tempat mengadu nasib, ibu kota Negara kita, kota impian, kota metropolitan dan lain-lain.

Malang betul Jakarta, di hari ulang tahun masih di cecar segudang permasalahan..

********
Salah siapa, Jakarta macet, pengap dan semraut..? ya manusianya doong...! sehebat apapun program pemerintah, kalo belum ada kesadaran manusianya ya sama aja...!! ditegor jangan buang sampah sembarangan malah galakan yang ditegor, ditegor jangan merokok di tempat umum, malah lebih jutek yang ditegor... udah ditulis gede-gede ALAS KAKI HARAP DILEPAS... masih aja nyelonong masuk pake sendal/sepatu... jiaah daah... pengen jitak aja rasanya...  

Rasa empati dan peduli terhadap lingkungan nampaknya sudah semakin jarang. Yang dewasa bukan memberi contoh, malah membiarkan. Misal, siang itu hari sabtu, saya menuju stasiun gondang dia naik commuter line. Suasana commuter line hari kerja dengan week end, berbeda. Di gerbong khusus wanita, banyak ibu-ibu muda dan anak-anak ABG, tebak saya mereka ingin ke kota tua naik kereta. Wisata merakyat.

Bagus niatnya, cuma dalam pelaksanannya kurang esensinya. 

Suasana dalam kereta tidak padat, jumlah penumpang juga tidak sebanyak hari kerja. Namun, gerbong terasa sempit, sebabnya rombongan ibu-ibu muda dan ABG itu duduk di lantai layaknya tamasya. Jumlah mereka banyak, dan ini memakan tempat. Saya, dan beberapa wanita lain yang berdiri tentu merasa tidak leluasa. Operator sudah mengingatkan berulangkali melalui pengeras suara, agar penumpang jangan duduk di lantai karena menganggu. Dan apa yang mereka lakukan..?? CUEK BEBEK….  

Ada lagi yang lucunya bukan main, saat ada penumpang yang duduk dan bersiap turun. Layaknya kecepatan cahaya, anak ABG itu menyerobot duduk, padahal ada orang yang lebih tua berdiri persis di depan penumpang yang ingin turun. dan tindakan anak itu di ‘suraki’ orang tuanya. Artinya ada fakta bahwa orang tua men-support anak untuk begitu. Sambil bertatap-tatapan dengan sang ibu, mereka tertawa bersama-sama. iiih wow’ apa-apaan ini..?!! budaya antri dan hormat kepada yang lebih tua dikemanakan, ibuuu..???!!! 

Lain di kereta, lain lagi di gerbang-gerbang tol. 

Hari sabtu dan minggu gerbang tol Cakung-Bekasi dihiasi antrian kendaraan mobil pribadi. Saya dan  keluarga, secara rutin, sebulan sekali menggunakan jasa TOL ini. Bekasi-Serpong, tujuan kami. Beragam mobil, dari yang mahal sampai yang tidak dikeluarkan pabrik lagi, berjejer disini. Apa yang menarik? Kendaraan apapun yang anda gunakan, mobil mewahkah? Mobil solarkah? Angkot kah? Tidak jaminan anda mencintai kebersihan. Sampah kertas pembayaran TOL berserakan dimana-mana. Kotor.  

Rupanya ada banyak pemilik mobil yang membuang seenaknya kertas bukti pembayaran TOL di pintu-pintu TOL. Ini undisipliner yang luar biasa. Kalau segitu malasnya anda membuang, atau begitu luar biasanya kesibukan anda, bairkan saja di dasbor mobil, nanti petugas cuci mobil yang membersihkan. 

Kalau sudah begitu..

Banjir.. kotor.. sumpek.. >> ulah siapa…???? Jakarta kah?? Yang statusnya hanya benda mati? marilah menjadi komentator yang bertanggungjawab. Jangan sekedar berkata Jakarta itu macet, banjir, tapi tidak menjaga kebesihan tempat umum, tidak bertoleransi di jalan. Saya, selalu berusaha membuang sampah pada tempatnya, meski itu bungkus permen apalagi kertas pembayaran TOL tidak pernah saya buang keluar. Saya selalu berusaha tertib berkendara, meski cuaca begitu terik. Saya berusaha menjaga sopan santun kepada pengguna tempat umum yang lebih tua. 

Untuk adik-adik seperti kisah saya di atas, please deeh deek.. empatinya di pekak-kan lagi..!!

Saat kita mengucapkan selamat ulang tahun Jakarta, itu berarti selamat ulang tahun untuk seluruh warga Jakarta. Karena Jakarta punya kita semua..!!